What The Hell (cerpen)
oleh Emeur Marryan Piquet pada 14 Mei 2011 jam 16:01
Menurutku cinta itu hanya masalah ‘pantas atau tidak’, namun untuk dia cinta hanya masalah ‘cinta atau tidak’. Sesederhana itukah?
Saat riap-riap kenangan mulai mengoleskan
Satu dua tiga peristiwa-peristiwa silam
Saat menunggu adalah hal paling laknat
Sang waktu justru mengintaiku
Lalu membunuhku…
***
Tok…tok…tok…
“emm, kak…” dia nampak ragu-ragu memanggilku, ahh manis itu nampak bertambah jelas saat itu. Wajah polosnya yang menggemaskan memaksaku bangkit dari tempat tidur menghampirinya.
“kenapa?” tanyaku berusaha sebiasa mungkin, kurasa tak terdengar seperti orang menahan tawa. Oh Tuhan, wajah ini begitu mendamaikan.
“kata mama, kakak suruh temenin aku ke rumah sakit.” ujarnya agak pelan, kenapa dia? Takut? Haha, lucu sekali, “tapi kalo kakak gak bisa juga gak apa-apa. Biar aku sendiri.” lanjutnya cepat, aku berdehem pelan mengambil jaket putih yang tergantung manis di kastok persis sebelah pintu.
“ayo.” aku menggandeng tangannya. Tangannya halus, tidak terlalu kasar untuk lelaki. Dan tangannya pun lebih besar dari tanganku. Ahh, nyaman sekali menggenggam tangannya.
***
Yes! Mama menyuruhku menjemputnya siang ini. Biasanya mama hanya menyuruhku menemaninya ke rumah sakit seperti kemarin. Sebenarnya mama menyuruhku tentu ada alasannya. Kami diutus ekhem, maksudku disuruh mengambil kue-kue yang mama pesan. Kata mama, si dia sudah tau tempatnya. Alhasil begini, menunggu jam pulang anak SMA yang lumayan siang.
Hei hei, lihat! Anak-anak mulai berhamburan keluar. Aku tetap menunggu dia. Lama. Setengah jam lewat. Bosan. 10 menit lewat lagi. Dan akhirnya aku melihat dia berjalan keluar gerbang.
Keren sekali caranya berjalan. Caranya tersenyum pada temannya. Ahh, dia memang anak remaja yang manis. Dia tampan.
“tunggu dong!” seorang anak perempuan menariknya. Rambutnya tebal terurai, cantik sih.
“kenapa?” dia bertanya dengan nada yang selalu menyenangkan untukku.
“kamu belum jawab… emmm, yang tadi itu…” dia tersenyum mendengarnya. Kulihat pula dia menghela nafas, “maaf ya.” akhirnya dia bersuara.
Segurat raut sedih mulai nampak di wajah perempuan itu. Matanya hampir berkaca-kaca. Ahh, kasihan sekali perempuan ini. Pasti perempuan ini patah hati karenanya. Hmm, tapi perasaan lega pun hadir menghembus hatiku. Senang sekali aku mendengarnya.
“siang kak.” dia menyapaku dengan ramah, dan tak lupa dengan senyumnya yang menurutku…tulus. Aku pun membalasnya dengan hanya sekedar ikut tersenyum.
Dia mulai memakai sabuk pengamannya, “tadi siapa?” rasanya dari tadi aku berusaha menaham pertanyaan itu. Ahh, sial sudah terlanjur basah.
“Sivia, dia temen aku kak.” baiklah, kurasa tak usah ditanya dua kali. Aku segera memacu mobil swift putihku membelah kemacetan yang tak lazim lagi. Asap knalpot yang asik berenang-renang di udara, deru mesin metromini yang suaranya membuat pengang telinga. Semuanya aku lewati. Bersama dia.
***
Ekhem, bisakah kita kembali pada masa 19 tahun silam? Saat itu umurku 6 tahun dan dia belum terlahir ke dunia fana ini.
“sekarang kamu panggil tante dengan sebutan mama ya cantik?” aku mengangguk, nurut. Wanita anggun itu –mama- bersama suaminya yang nampak gagah yang sekarang dan seterusnya akan ku panggil –papa- sedang menandatangani surat-surat yang entah aku pun dulu tak tau isinya apa.
Pasangan serasi ini membawaku ke dalam mobil yang nyaman, di dalamnya dingin, mereka membawaku pergi. Pergi. Jauh. Sampai plang yang bertuliskan ‘Panti Asuhan Sinar Kasih’ tak lagi terlihat.
Aku dibawa pergi entah kemana, perjalanannya sangat jauh. Dan kini aku tepat menginjakkan kakiku disini. Tempat yang telah membuat masa depanku jauh ternganga, sehingga aku dengan mudahnya menelusup. Membuat masa depanku jauh dari bayang-bayang yang dulu-dulu. Dulu aku sempat terdiam, membayangkan sekolah yang hanya tamat sampai SMP lalu sisanya mungkin aku akan menjadi seperti ibu kandungku. Ahh, menyebutnya saja menbuatku sakit hati.
Ibu kandungku, seorang wanita tegar yang sejakku kecil selalu kuhormati. Lalu alih-alih beliau pergi meninggalkanku. Meninggalkanku di panti asuhan sendiri. Lalu beliau pergi tanpa membawaku, pergi dengan membawa badannya dan seonggok tas lusuh kepunyaan ibu kandungku satu-satunya. Lalu pergi dengan air mata yang mengucur. Ibu kandungku bilang, “ibu mau pergi ke negara yang ada Ka’bah nya sayang.” setelah itu aku tak lagi mendengar kabarnya, selang 2 bulan aku tinggal bersama orang tua baruku, barulah aku mengetahui kenyataan ini. Beliau telah pergi. Namun selamanya.
Setelah sebulan aku berduka, mama memberitahuku kenyataan lain. Tapi ini menyenangkan. Mama sedang hamil. Mama sedang mengandung dia.
***
“kak?” ahh, dia mengejutkanku. Emm, bukan maksud dia memang, tapi aku sedang melamun, “ya?” sahutku cepat.
“nanti temenin aku lagi mau gak?” aku sedikit menimbang, hmm mengasikkan sepertinya. Apalagi bersamanya. Setelah melihatku dengan takzim lalu senyuman indah itu mulai mekar melihat anggukanku.
Dengan cepat dia mengambil kunci mobil dari genggamanku. Aku hanya melihat apa yang dia lakukan. Dia membuka pintu depan sebelah pengemudi, lalu menatapku sambil tersenyum lagi.
***
Ini juga adalah penggalan masa laluku yang menurutku akan tetap manis sampai nanti. Saat itu wajah kekhawatiran papa menyelubungi wajah tegasnya. Keringat dingin membasahi nyaris seluruh wajahnya.
Ceklek…
“dok, gimana dok? Istri saya gimana? Selamat kan? Bayi saya juga kan dok?” papa bertanya dengan nada yang cemas, aku pun juga ikut tegang. Kulihat dokter itu menghela nafas sebelum beliau mulai bicara.
“operasi caesarnya berjalan lancar, istri anda selamat… namun…” papa mencengkram bahu dokter itu lalu mengguncangnya, saat itu aku takut sekali.
“bayi saya selamat kan dok?” tanya papa yang sudah habis-habis mengontrol emosinya, namun yang aku lihat, papa gagal, “bayi anda selamat Pak, tapi bayi anda tidak mengeluarkan suara tangisan seperti bayi lain Pak, kami takut bahwa bayi anda…” sebelum dokter menyelesaikan penjelasannya, papa langsung masuk ke ruangan mama tadi dioperasi.
“maaf Pak, pasien akan dipindahkan ke ruang rawat” ucap salah satu suster yang mampu memaksa papa untuk mundur. Keluar. Dan bersabar.
***
Dia mengajakku entah kemana. Disini jalanannya berliku dan menanjak, tetapi ramai sekali. Kami berada di tempat tinggi sepertinya, karena di pinggiran jalan ini adalah tebing dan aku bisa melihat semuanya dari sini. Mobil tak lama berhenti.
Dia menggandengku, lalu kami berjalan beriringan. Tinggiku setara dengan dagunya. Aku agak terkekeh, dia tinggi sekali ya? Atau aku yang pendek? Dia persis papa saat pertama kali aku melihat papa dulu, dia gagah.
“pacarnya ya?” tanya seseorang pada dia, dan dia hanya tersenyum. Catat. Hanya tersenyum. Apa sebegitu sulitnya untuk mengklarifikasi? Tapi itu membuatku sedikit senang juga, apa orang-orang juga melihat kami berdua cocok?
***
Ini lanjutan dari kisah lama tadi. Papa masuk ke ruang rawat mama. Mama begitu lemas, pucat. Aku lihat di dekat jendela, disana ada sebuah kotak. Kotak besar yang di dalamnya ada dia yang masih bayi. Lucu sekali. Tapi dia diam. Dia tak bersuara sama sekali.
Aku lihat papa maju mendekati kotak itu. Papa mendekatkan wajahnya, lalu papa mengumandangkan adzan. Rasanya sekujur tubuhku kaku, aku merinding mendengarnya. Tapi dia belum menangis juga. Papa semakin merapatkan kelopak matanya, melanjutkan adzannya membuatku merinding. Apa dulu ayah kandungku mengadzaniku seperti ini? Ahh, entahlah. Aku tak pernah melihat beliau.
Tiba-tiba keheningan terpecah saat dia menangis, menangis sangat keras. Mama menangis, yang baru aku pahami sekarang itu adalah tangis bahagia. Papa menggendongnya, papa mengangkatnya ke udara.
“Rio! Kamu Rio anak papa! Kelak nanti kau akan menjadi ksatria nak! Kamu anak papa yang pemberani.” ucap papa kencang-kencang. Sejak itu kurapalkan betul nama itu. Rio.
***
Dia membawaku duduk di tepian tebing –namun aman- aku bisa melihat kerlip lampu malam ini. Kami duduk menyila sambil memakan jagung bakar yang baru saja diangkat dari bara. Masih panas, rasanya manis. Ahh, aku suka saat-saat ini. Saat-saat kedamaian menyelimutiku. Kulihat dia menyimpan kembali jagungnya di piring, dia memeluk lututnya menatap hempasan langit yang seolah terbentang tanpa sekat yang sangat luas. Berserakan bintang gemintang yang bagaikan plankton berenang-renang di lautan.
Dia menjatuhkan kepalanya di bahuku. Namun aku mengikutinya. Memejamkan mata. Rasanya benar-benar memikat jiwa. Nyaman.
Perlahan aku merasa lengannya merangkul pundakku, seperti akan mendekap, tapi aku masih terpejam. Sampai nafas hangatnya mulai terasa di wajahku, dadaku berdebar ketika saat itu benar-benar terjadi. Pertama kali seumur hidupku, dan dia yang pertama. Masih terasa jelas saat bibirnya meraba lembut bibirku, sangat lembut.
Ya Tuhan! Bahkan aku tak sanggup menolaknya! Sungguh aku tak kuasa mengingkari perasaanku kini.
Aku mulai berani membuka mataku, aku lihat wajahnya menempel di wajahku, bibir kami masih saling melekat. Aku mendorong pelan kedua bahunya, menghentikan kecupan-kecupan tadi. Dia menatapku…
“kakak kenapa?” dia bertanya tanpa ada sedikit keraguan di setiap getaran suaranya. Harusnya aku kan yang bertanya?
“kamu yang kenapa!” dia memandangku lagi, dengan tatapan yang belum pernah seumur hidupku kutemukan di mata bulat yang meneduhkan itu.
“salah?” aku mengerutkan keningku, tak habis fakir dengan kerja otak cerdas remaja 18 tahun itu.
“jelas! Kamu tak membawa otak encermu itu?” makiku padanya, lalu dia hanya diam, “jelaskan apa yang salah?” dia masih berani bertanya seperti itu?
“salahmu? Kamu sadar apa yang barusan kamu lakukan? Kamu menciumku Rio! Aku kakakmu!” lalu dia kembali menatapku, “apa sih yang salah? Oke, aku mencium kakak, lalu kenapa? Kakak juga diam saja! Kenapa kakak tadi diam? Kakak malah membiarkanku terus mencium kakak!” sentaknya dengan nada sarkatis, namun agak pelan. Dia tak pernah bicara keras di depan wajahku. Tidak pernah, dan aku yakin tak akan.
“dan kakak ingat, kakak bukanlah kakak kandungku!” ahh, ya benar! Hatiku ini terasa perih saat dia kembali mengingatkan kenyataan itu.
“kamu tega!” aku hampir menangis, dia lalu memelukku. Hangat. Tapi lagi-lagi kudorong tubuhnya.
“aku mencintai kakak.” ungkapnya, bahkan tanpa jedaan keterkejutanku langsung menyeruak masuk. Mengalir cepat bersamaan dengan darahku.
“kamu…! Kamu bodoh Rio!” bentakku, aku menelungkup. Tak mau menatap wajahnya.
“aku tau, kakak juga cinta kan sama aku.” ujarnya dengan nada yang lebih tenang. Tubuhku menegang, air mataku mengucur hebat. Benarkah? Dan hatiku berkata iya. Ya Tuhan! Apa yang kuperbuat? Orang tua angkatku tak pernah membuatku kecewa ataupun bersedih. Namun aku? Lihatlah? Aku malah membuat putranya jatuh cinta padaku? Anak macam apa aku ini Ya Tuhan!
***
Apa aku sudah cerita pada kalian? Kurasa belum. Kehidupanku menjadi seorang dokter. Itu cita-citaku. Dan sekarang aku sudah menggenggamnya, katanya aku terbilang muda untuk dokter seusiaku. Apa iya? Memang sih saat kuliah aku lulus lebih cepat.
Kemarin hari rabu. Kemarin tepat umur 26 menghampiriku. Dan dia 19, dia sudah lulus dengan nilai sangat mengagumkan. Nyaris sempurna. Dia pun sedang sibuk-sibuknya kuliah. Rajin sekali anak itu.
Kalian tau? Semenjak kejadian –sewaktu itu- dia mulai enggan bicara lagi padaku. Sungguh aku merasa tak enak hati. Tapi kejadian itu memang salah kan?
“kak.” seseorang memeluk pinggangku, bisikan itu, suara itu. Pasti dia. Tapi aku diam, aku masih ingin diam. Membuang kumpulan rindu-rindu itu padanya.
Aku merasa nafasnya sangat dekat di leherku, dia seperti menyesap wangi rambutku. Tak tau sejak kapan, kini bibirnya sudah mengecup pipiku.
“Rio!” aku membalikan badan, memegang kedua tangannya. Menatapnya lagi, “ini salah, adikku! Hentikanlah perasaanmu itu!” dia menunduk. Dalam.
“sungguh, apa cinta ini sangat tak berharga untukmu? Tak pantaskah aku mencintai seseorang? Aku pun manusia kak!” dia melepaskan genggamanku.
“aku tak meminta apapun kak! Kenapa kakak selalu menyalahkanku? Aku tau aku tak akan bisa memiliki kakak. Aku mengerti kak! Aku mengerti! Tapi tak bisakah kakak mengerti aku? Aku yang dari dulu begitu mencintaimu! Kenapa kakak jahat? Kenapa aku tidak boleh mencintai kakak?” aku menangis, mungkin hatiku yang menangis saat kata-kata itu terlepas dari bibirnya. Sungguh bukan begitu Rio!
“Rio, maksudku…”
“sudah! Mungkin aku memang tak berarti kan buat kakak? Cukup tau, perasaanku hanya sekedar sampah busuk. Terima kasih. Seumur hidupku, hanya kakak yang bisa membuatku seperti ini. Demi Tuhan kak! Aku pun tak menginginkan perasaan ini. Tapi aku malah tetap mencintaimu kak! Aku cinta kamu kak Ify!”
***
Kelam. Ini hari ke 43 setelah mama dan papa berpulang. Kenapa secepat ini?
Aku masih tinggal di rumah mama dan papa, masih bersama Rio, dan bersama Riko. Suamiku.
“Rio! Hari ini jadwal kamu ke rumah sakit.” ucapku hati-hati. Dia sedang duduk di atas kasurnya, sedang membaca, “aku tak akan mati hanya karena tidak cuci darah.” tanpa menatapku, dia bicara selancang itu dengan tenang.
“Rio! Jaga mulut kamu!” dia tersenyum miring, masih menatap bukunya, “aku matipun tak akan ada yang menangisiku, kak Ify? Aku bukan siapa-siapa kakak, jadi tidak ada masalah.” rasanya tangan ini ingin sekali menampar pipinya. Ahh, picik sekali pikiran anak ini.
***
Aku mencintainya. Aku mencintai Rio. Rio. Rio. Rio. Ri…
Aku terdiam melihat Rio. Dia sedang ada di ruang tamu. Menimang sebuah vas bunga. Raut wajahnya miris. Ingin rasanya aku mendekapnya, mengecup keningnya. Tapi apa sanggup aku melakukannya setelah aku telah menyakitinya. Banyak menyakitinya.
Prang…
“Rioooo!!!” aku menjerit berlari menghampirinya, aku duduk memangku kepalanya yang sudah bermandikan darah segar
“aku cinta kak Ify.”
***
Itu adalah kejadian terakhir yang menutup sepenggal kisahku. Aku meninggalkan Riko, sungguh aku berjanji tak akan lagi menghianati dia. Karena aku mencintainya. Begitu mencintai Rio.
Sore ini, segaris warna jingga terlihat anggun yang menyatu menjadi gradasi di cakrawala. Menutup hari dengan perlahan turun menyelam sampai tak terlihat. Sangat indah. Begitu indah. Indah. Indah. Tapi tak pernah seindah dia.
Disini, di tepian tebing. Tempat aku dan Rio bersama. Saat pertama kali aku merasakan kelembutan bibirnya. Saat aku mendengar sekata cinta dari mulutnya.
Aku disini, berdiri diatas pohon. Berdiri di pinggiran ranting besar, pelan-pelan aku menautkan tambang yang bersimpul, membiarkan tambang itu kini melingkari leherku. Lalu aku kembali berjalan. Menapaki udara. Menutup hari. Dan terbang menyusul ibu kandungku, berlari memeluknya. Terbang menyusul mama dan papa lalu mendekap mereka juga. Dan yang terakhir. Ini kulakukan untuk dia. Aku ingin terbang menyusulnya, mengeratkan tubuhnya padaku. Lalu berbisik, “kak Ify juga cinta Rio.” lalu aku hidup damai.
Apa sih yang membuat kematian begitu menyeramkan?
Mungkin kamu akan merasakan hidup yang sebenarnya setelah kamu mati.
Seperti aku, kini aku hidup damai. Walaupun aku sudah mati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar