Total Tayangan Halaman

Jumat, 23 September 2011

MAEZA

Sumpah entah kenapa akhir-akhir gue sering kepikiran elo. segalanya tentang lo, mulai dari kebiasaan-kebiassan elo,tanggal lahir lo,sms-sms dari lo (walaupun ada banyak yang gue hapus dari hp gue,tp sumpah gue nyesel parah)

mungkiin,lo kalau tau tentang gue yang lagi galau-in lo disini,lo pasti bakal ketawa ngejek gue. mungkin lo pikir, "dari kemaren kemana aja non?" "baru nyadar ya sama keberadaan gue?" IYAAAA!! gue dengan bodohnya baru sadar,kalau gue ternyata butuh lo,gue ngga bisa senyum tulus kalau engga ada lo!! dan gue baru sadar, kalau GUE ITU SAYANG SAMA LO YO!!! sumpahh gue nyesel banget udah nyia-nyiain lo,gue nyesel selalu ngga pernah anggap lo ada,selalu mengabaikan keberadaan lo, gue emang tolol!!! hahaha padahal dulu lo selalu aja ada untuk gue,lo engga pernah peduli kalau lo gue cuekin di sekolah,gue jutekin kalau kita berdua papasan di koridor,gue ngga bales senyum dari lo!! tapi lebih tepatnya,GUE ENGGA PERNAH BALES PERASAAN LO UNTUK GUE!!
gue inget,waktu lo pertama kali sms gue. lo bilang lo bela-belain dateng ke kelas gue buat nyatet nomor hape gue,lo sering titip-titip salam buat gue lewat oji, hahaha gue pikir selama ini dia bohong,ternyata beneran lo suka sama gue, maap ya saya emeng telmi kalo menyangkut perasaan :'')
gue inget waktu lo pertama kali kita otp-an :'') gueingeet setiap kita otp-an kita selalu sampai berjam-jam hahaha itu bukan kerena kita banyak ngobrol,tapii karna kita kebanyakan dieeeeem hahaha,gue inget waktu lo bilang lo udah bisa main gitar dan lo nyanyiin gue lagu "merindukanmu" :'''''') gue ingeeet lo selalu pulang ngaji lewat depan rumah gue dan selalu minta gue ada di luar dan nyapa lo, gue ingeeeeet!! sumpahh sampai sekarang gue ingeet semua detail kisah yang dulu tentang kita, dan gue yakiiiiiiin saat ini gue adalah orang tertolol yang ada bagilo!! gue yang selalu jahatin lo,dan akhirnya berbalik gue yang AKHIRNYA JATUH CINTA SAMA LO!!
DEAR THERIO SURYA MAEZA PUTRA, terimakasih untuk kisah-kisah indah yang sudah lo lukis di dalam hidup gue,terimakasih lo udah ngajarin gue arti kasih sayang yang sebenarnya,dan terimakasiih karena berkat lo gue bisa tulus mencintai seseorang, dan itu kamu :')

RANDOM PARAH

bertahan ( cerpen )

oleh Anindhiya Agustianing Putri pada 04 Desember 2010 jam 11:03

Gadis kecil itu menggelembungkan pipinya, membuatnya terlihat bulat, sambil mengamit boneka beruang kecil di dekapan tangan kirinya, ia berdiri di ambang pintu.

“Mama mana pa ?” tanya gadis itu ketus, dan kembali menggelembungkan pipinya. Papanya yang sejak tadi membaca koran, baru sadar akan kehadiran anak perempuannya itu.

“Mama pergi, kamu kenapa via ? sini deket papa..”

Dengan berlari kecil, via mendekati papanya dan duduk di sampingnya. “Via sebel sama iel, via enggak mau temenan lagi sama iel..” ujarnya polos, khas anak-anak.

“Kok gitu ? via sama iel kan sahabatan, jadi enggak boleh saling benci..”

“Tapi iel jahat sama via”

“Iel nakalin via ?” via itu menggeleng.

“Iel bikin via nangis ?” lagi-lagi via menggeleng.

“Terus iel bikin salah apa sama via ?”

“Tadikan di sekolah, acara tukeran bekal, terus via udah bawain roti buat iel, tapi iel malah ngasih bekalnya ke zahra, terus seharian mereka ngobrol berdua, via enggak boleh ikutan”

“Via suka ya sama iel ?” goda papanya.

“Ihh, papa, apaan sih, kata bu guru, anak kecil enggak boleh suka-sukaan, via cuma enggak suka aja, zahra ngerebut ielnya via”

Papanya tersenyum penuh arti, menggendong via lalu meletakkan di pangkuannya. “Itu via tahu, lagian via enggak boleh egois, semua itu teman, via, iel, zahra, kalau main ya harus sama-sama..”

“Tapi via enggak suka lihat iel berdua sama zahra”

“Kok gitu sih ? anak papa enggak boleh ah, jadi egois gitu..”

“Kan via itu putri, iel pangerannya, kalau pangerannya direbut, nanti via sama siapa ?” papanya terkekeh pelan, ia mengusap rambut via yang tergerai.

“Tuh kan, berarti via suka sama iel..”

“Enggak papa, via enggak suka. Tapi via sama iel itu, putri sama pangeran, enggak bisa dipisahin” sahut via masih keukeuh dengan jawabannya.

“Via tahu enggak, kadang apa yang manusia rencanain, belum tentu sesuai sama apa yang Tuhan rencanain”

“Beneran ? kan kata papa, kalau kita rajin berdoa dan jadi anak baik, Tuhan akan sayang sama kita dan ngabulin semua doa kita, iyakan ?”

Papanya menatap mata via yang bening, putri tunggalnya itu, memang cerdas. Mata yang sama seperti mata ibunya, sifat ingin tahu yang sama seperti ibunya pula, dan ego yang dimilikinya itu, rasa-rasanya juga mirip dengan ibunya.

“Via, mau dengerin cerita papa enggak ?”

“Cerita apa ? tentang putri yang cantik sama pangeran berkuda putih ya ?”

“Haha..mau enggak nih ?”

“Mau..”

“Ini cerita tentang...”

***

Suara riuh penonton, menjadi pengiring penuh semangat. Teriakan serta yel-yel yang terus berkumandang tanpa henti, bagai genderang yang berisi energi tak terbatas. Pertandingan basket antar sma sejabodetabek, memang selalu begini.

“Gimana fy, udah berapa-berapa ?” seorang laki-laki dengan mata sipit, dan masih berbalut seragam bola, duduk di samping seorang gadis manis, yang dari tadi termasuk yang paling kencang, dalam soal teriak-meneriaki.

“Eh elo vin, udah 77-68, buat sekolah kita..” sahut ify menoleh sekilas, lalu kembali memperhatikan pertandingan.

“Bagus deh, rio udah masukin berapa kali ?”

“20an lebihlah, hampir 30 malah kayanya”

“Sadis tuh bocah, abis ini kita ditraktir nih fy..”

“Yoaa..” ujar ify sambil mengacungkan jempolnya, dan baru-baru benar menoleh ke arah alvin. “Lho, vin kok elo pakai...? ya ampun !! gue lupa lo juga tanding, gimana-gimana ?!!” sambung ify heboh sendiri.

Alvin menutup kedua telingannya, mendengar teriakan ify. “Santai fy..”

“Hehe...jadi gimana pertandingan lo ?”

“Lumayanlah, 3-0”

“Menang ?”

“Iya dong”

“Siapa yang ngegolin ?”

“Gue..”

“Tiga-tiganya ?”

“Iya”

Ify menatap alvin tidak percaya, bukan soal gol yang alvin buat, tapi cara alvin menyampaikan berita itu, yang datar-datar saja. “Itu sih bukan lumayan vin, itu namanya hebat..aaaa..selamat yaaa..”

“Haha..oke-oke. Entar pas final, lo sama rio wajib nonton ya, enggak mau tahu gue”

“Sip. Asik, gue ditraktir dobel nih..”

“Dih, siapa juga yang mau nraktir lo..”

“Ya elo sama riolah hahaha..”

-----

Dua orang laki-laki itu sama-sama diam, meski mata mereka mengisyaratkan bahwa mereka berdua tidak suka ada di tempat ini, bosan lebih tepatnya. Penampilan mereka sama-sama berantakan, rambut yang acak-acakkan, luka lebam di wajah mereka, serta noda darah di kemeja putih mereka yang keluar dan tidak terkancing rapi.

“Kalian itu mau jadi apa sih ?!! kerjaannya berantem terus ! bangga kalau bisa ikut tawuran ?! bangga !”

“Jawab saya !!” seorang laki-laki tua di hadapan mereka, yang mempunyai kumis melingkar menyaingi kumis pak raden, dan selalu dihadiahi predikat sebagai guru tergalak dan tersangar oleh setiap angkatan.

“Mereka yang ngejek sekolah kita duluan pak, saya enggak bisa tinggal diam dong kalau sekolah saya di injak-injak” sahut seorang anak yang duduk di sisi kanan.

“Tapi bukan dengan cara tawuran seperti ini mario !! mereka itu hanya anak-anak dari sekolah negeri pinggiran, bukan sekolah unggulan seperti kita ! gunakan dong akal sehat kamu !!”

“Akal sehat saya bilang, saya harus ngelawan mereka pak !” timpal seorang yang satunya lagi.

“Saya belum kasih kamu kesempatan buat ngomong alvin !”

“Tapi saya mau ngomong pak !”

“Udahlah pak, udah hampir satu jam kita duduk disini, dengerin bapak ngoceh kesana-kemari, bapak mau ngasih kita hukuman apa ? skorsing ?” sela rio, ia benar-benar sudah muak terus-terusan ada disini.

“Jangan kurang ajar ya kamu !”

“Kalau bapak tidak ingat, sama prestasi kalian berdua di bidang basket dan bola, rasanya bapak ingin sekali mengeluarkan kalian dari sekolah ini..”

“Kalau mau ngeluarin saya ya keluarin aja” potong alvin.

“Diam kamu alvin !”

“Baiklah, keputusan bapak untuk kelakuan kalian kali ini, bapak akan menskors kalian selama tiga hari ke depan, dan besok panggil orang tua kalian kemari. Sekarang kalian boleh keluar dari ruangan saya..”

Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, dua orang sahabat itu keluar begitu saja. Terlihat ify yang sepertinya sudah menunggu sejak tadi seperti biasa, langsung menghampiri mereka.

“Kalian tuh ya, kapan sih mau sadarnya ? ini udah ke 54 kalinya kalian masuk ke ruang BP, dan yang ke 14kalinya selama kalian kelas tiga ini”

”Dan sampai kapan sih fy elo mau ngitungin berapa kali kita udah masuk BP ?” tanya rio tidak mengerti dengan sahabatnya yang satu ini.

“Ya gue pengen tahu aja, sejauh apa sih, sepak terjang lo berdua di kelas tiga ini, enggak lulus aja lo berdua, tahu rasa deh”

“Kalau gitu, terus hitung ya fy, masih bakal panjang kayanya tuh daftar lo” celetuk alvin dengan cengirannya yang khas.

“Gila ah lo berdua, gue enggak abis pikir deh. Apa sih motif kalian masih tawuran dan nyari gara-gara kaya gini ? empat bulan lagi kita UN ! ujian nasional !” ujar ify sambil mengacungkan empat jarinya, semangat.

“Untung kalian siswa berprestasi, jadi selalu dimaafin. Tapi jangan ngelunjak gini juga dong. Lo enggak inget apa yo, ultimatum beberapa guru tentang nilai lo yang kurang di pelajaran mereka, itu bahaya banget tahu enggak..” ify masih saja melanjutkan orasinya, dan kali ini, seperti biasa, ia menjadikan rio sebagai objek pembahasannya.

“Kenapa selalu gue sih fy ? kenapa lo selalu ribet mikirin tentang gue ?!”

“Ya karena elo itu males, dan harus di ingetin dulu !” alvin hanya bisa terkikik menahan tawa, melihat dua sahabatnya ini mulai beradu argumen sepanjang koridor. Ia sendiri lebih memilih menebar senyumnya untuk setiap siswi yang ia temui.

“....kalau elo pintar gue juga enggak akan capai-capai peduliin nilai-nilai lo yang ada di bawah standar itu !”

“Jadi lo mau bilang gue bego fy ?!”

“Kan udah gue bilang tadi, lo itu malas. Nyatanya pas kelas satu, lo pernah kan ngalahin nilai matematik gue, walaupun cuma sekali sih, tapi tambah kesini, lo tuh malah tambah ancur, mau jadi apa sih lo ?!”

“Urusan gue dong mau jadi apa, kok elo yang ribet ? emak bapak gue aja santai..”

“Lo itu laki-laki, laki-laki itu bakal jadi tulang punggung keluarga, tapi kalau laki-lakinya kaya lo sih, susah banget deh di harepinnya”

“Udah ah, enggak akan selesai kita debat ! bibir gue berdarah, nyut-nyutan, dan malah lo ajakin kaya gini ! sekali-kali sama alvin kek..” gerutu rio kesal.

“Alvin kan udah punya cewe-cewenya yang banyak itu, buat ngurusin dia, beda sama lo..”

“Apa...”

“Eits, apa tuh tadi nama gue disebut-sebut ?” alvin memotong kata-kata rio, menyelinap di antara dua orang itu, menghentikan perdebatan mereka.

“Tau ah, gue mau balik ke kelas aja..”

“Ya elah fy, udah tinggal 20menit lagi bel, nanggung. Enggak ikut pelajaran sekali, enggak akan bikin ranking satu lo yang abadi itu lepas kok..” tahan alvin.

“Sekali apanya ? setiap kalian masuk BP, gue pasti cabut !”

“Emang kita yang nyuruh..” cibir rio, cari perkara. Untung alvin buru-buru, merangkul ify, dan memberi jarak yang cukup diantara ify dan rio.

“Udah-udah, temenin kita aja ke uks ya ? kalau bukan lo, siapa dong yang bakal ngobatin kita..” bujuk alvin, setengah memaksa, karena ia langsung saja menyeret ify agar berjalan bersamanya, dan memberi kode ke arah rio agar mengikuti mereka.

Panas. Itulah yang rio rasakan, ketika dengan matanya sendiri, ia melihat ify mengoleskan betadine di pelipis alvin yang terluka. Tapi gengsinya yang besar, dan mengingat baru beberapa menit yang lalu mereka adu mulut, rio pun hanya bisa menelan kekesalan itu mentah-mentah, menendang-nendangi tempat sampah, yang sesungguhnya tidak mempunyai salah apapun terhadapnya.

“Buset dah yo, itu tempat sampah abis ngelakuin apa sih sama lo ?” goda alvin, yang dengan tampang inoccentnya, membuat ia tampak sangat menikmati perhatian ify.

“Itu tadi ada kecoa disitu, jadi mau gue bunuh aja rasanya” jawab rio asal. Alvin terkekeh. Dua sahabatnya ini, memang sama saja.

Pintu uks terbuka, seorang siswi yang berparas cantik, muncul di baliknya. “Kak alvin, enggak apa-apa kan ?”

“Nah fy, berhubung cewek gue udah dateng, jadi sekarang lo mending urusin aja tuh sih rio, thanks ya..”

Ify menoleh ke arah rio, dalam hatinya ia tidak tega melihat rio seperti itu, tapi egonya yang keras, seolah menghalangi ia untuk menghampiri rio dengan segera. Ia kembali menatap alvin, dan menggeleng.

“Udah sana ah, jangan ganggu gue sama shilla..” ujar alvin santai, dan tanpa aba-aba langsung mendorong ify mendekat ke arah rio. “ Yo, si ify mau ngobatin lo tuh..” teriaknya asal.

“Kalau enggak mau, enggak usah aja” celetuk rio, tetap berlindung dibalik kegengsiannya. Ify tidak menggubris itu, ia mulai mengobati rio, tanpa suara.

“Awww..pelan bisa kali fy..” erang rio, ketika ify entah sengaja atau tidak, menekan titik yang mengeluarkan darah.

“Berani tawuran masa takut sama betadine” ejek ify. Rio mendengus pelan. Gadis di depannya ini, terlalu tangguh untuk di luluhkan begitu saja. Meski setiap kali bertemu mereka jarang akur, tapi tidak sedetikpun rio bisa berhenti untuk mengagumi ify.

“Jangan berantem lagi, lo udah kelas tiga yo, jangan sampai prestasi basket lo ketutup sama prestasi tawuran dan kenakalan lo ini, sama sekali enggak bisa dibanggain..” ify memulai lagi ceramahnya. Tapi kali ini rio memilih diam. Karena saat seperti inilah, ify terlihat berbeda dimatanya. Tampak bercahaya dan memancarkan sinar-sinar yang tidak kuasa ia tolak.

“Kasian juga sama nyokap lo, masa sampai famous gitu disekolahan gara-gara udah keseringan di panggil..”

“Fy..”

“Apa ?” ify menatap rio, yang ternyata sedang menatapnya. Untuk sesaat, mereka berhenti di tempat masing-masing, memandang ke satu titik, dimana pantulan bola mata mereka saling berbaur, dan seolah menjadi satu. Membiaskan roman-roman merah jambu yang merekah ruah, berbuncah di dalam hati mereka.

Sorot mata yang tegas dan cerdas, yang selalu menampilkan sosok ify yang nyata dan apa adanya. Yang cerewet namun berbobot. Dan sorot mata yang teduh dan menentramkan, yang selalu menggambarkan sosok rio yang bisa di andalkan. Yang bandel namun berprestasi.

“Thanks ya..” bisik rio lembut.

“Sama-sama..” balas ify manis. Untuk beberapa detik, keadaan jadi sedikit kikuk. Tanpa saling mengetahui, dua-duanya sama-sama terbayang, pancaran mata masing-masing tadi. Agar tidak terlihat gugup, ify membereskan alat-alat yang tadi ia gunakan dan memasukkannya kembali ke dalam kotak obat.

Rio memperhatikan punggung ify, rambutnya yang bergerak pelan, tertiup angin. Hal kecil yang entah kenapa terlihat begitu indah. “Ify..”

“Iya, kenapa yo ?”

“Eh..itu..” rio menggaruk tengkuknya, bibirnya tadi bergerak sendiri memanggil nama ify, dan sekarang ia tidak mengerti harus apa.

“Apa yo ? masih ada yang belum gue obatin ?”

“Enggak..enggak..itu..ehm..alvin..” sahut rio reflek, saat melihat ke arah alvin.

“Alvin kenapa ?”

“Kita gangguin alvin yuk, biar si playboy glodok itu kena batunya..” usul rio sambil tersenyum jahil, ify mengangguk setuju.

“Ohh, jadi ini vin ? terus yang kemarin anak basket itu, si agni lo kemanain ?” tanya rio setengah berteriak ke arah alvin.

“Lha, bukannya zeva ya vin ? kayanya pas di toko buku, lo perginya sama dia deh” timpal ify masang wajah tanpa dosa.

“Ya udahlah, kita berdua balik deh ya, enggak mau ganggu. Tapi nanti di kelas, kalau ditanyain angel gimana ? bilang aja lo disini sama anak kelas dua ?” sambung rio lagi. Alvin menatap mereka berdua geram, seolah siap menerkam tanpa ampun. Rio dan ify langsung saja menghambur keluar uks.

“Satu..” hitung rio sepelan mungkin. Mereka berdua masih duduk di depan uks.

“..dua..” lanjut ify.

“...tiga..” ujar keduanya kompak.

“PLAK ! KITA PUTUS KAK !”

Dan tawa rio serta ifypun, membahana, memenuhi lorong-lorong di sekitar uks.

-----

Alvin menatap rio tidak mengerti, tidak mengerti apa yang ada di pikiran sahabatnya itu. Rio sendiri memberikan tatapan yang tidak kalah tajamnya untuk alvin. Rahang-rahangnya mengeras, tangan kanannya mengepal, menyimpan sejuta emosinya.

“Apa ?! lo mau pukul gue ? pukul !” tantang alvin, sambil mendorong rio ke dinding.

“Jangan samain ify sama cewek-cewek lain yang bersedia jadi cewek lo !!” hardik rio kencang.

“Ify sahabat gue juga yo !! gue enggak sejahat itu !”

“Gue lihat sendiri vin ! gue lihat ify nangis di pelukan lo ! apa maksudnya ?!!”

“Bug !” sebuah hantaman kencang mendarat mulus di pipi rio. “Dengerin gue, ify mau ke jepang, beasiswa, dan dia nangis karena dia enggak ngerti gimana cara nyampaiinya ke elo, dia enggak mau pisah sama lo”

Rio mencoba mencerna kata-kata alvin, perlahan semakin ia mencoba mengendurkan emosinya, ia mulai bisa berpikir dingin. Tubuhnya merosot di dinding. “Je..jepang ?”

“Gue rasa dia belum jauh, kejar dia, jangan jadi pengecut, bilang kalau lo sayang sama dia” sahut alvin tegas, menyandang tasnya yang tadi ia jatuhkan di lantai, dan membiarkan rio seorang diri.

Butuh beberapa detik bagi rio untuk berpikir. Dan di detik yang ke sepuluh, tanpa pikir panjang lagi, dengan kecepatan ekstra ia langsung berlari, ia harus mengejar ify, harus.

“Doain gue ya vin..” ujar rio saat mendahului alvin di gerbang sekolah, alvin hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya. Ia telah mengetahui itu sejak lama, terlalu mudah melihat cinta yang sama di mata rio ataupun ify, hanya mereka berdua yang terlalu bodoh saja hingga tidak menyadari itu.

Berlari dan terus berlari, itu yang rio bisa lakukan saat ini. Ia tidak bisa menemukan ify di halte depan sekolah tempat ify biasa menunggu metromini, jadi rio memutuskan untuk terus saja berlari, sepanjang jalur yang ia tahu, ify lalui.

Tidak peduli akan tatapan orang-orang di jalan, dan peluh yang mulai membasahi seragamnya. Rio harus meminta maaf pada ify saat ini juga. Harus saat ini, tidak bisa ditawar lagi. Di tikungan setelah lampu merah, rio melihat ify yang turun dari metromini dan berganti ke metromini yang lain, tanpa rasa lelah sedikitpun, rio terus berlari, bahkan mencoba menambah kecepatannya.

“IFY !!” panggilnya kencang, berharap ify akan mendengar, dan berhenti untuknya.

“Fy..Ify !!”

Metromini yang rio yakini, ify naiki tetap saja melaju. Namun rio tidak menyerah. Awan mendung mulai nampak, rintik-rintik air mulai menyapa bumi. Dan kaki rio tetap saja terus bergerak, meski entah telah berapa kilometer ia lalui tanpa beristirahat sedetikpun.

“IFY !!”

Dan akhirnya di depan komplek rumah ify, metromini itu berhenti, menurunkan ify, yang tidak sama sekali memandang ke arah rio. Padahal rio yakin dengan sangat, ify mengetahui keberadaannya. Gadis itu memang benar-benar berbeda, atau terlalu berego tinggi ?

“Tunggu fy..hosh..hosh..” tangan rio berhasil mencekal pergelangan tangan ify. Dan ify tetap saja, tidak mau memandang rio sedikitpun.

“Hufttt..” rio menstabilkan nafasnya dulu, merilekskan organ-organ tubuhnya yang baru saja ia ajak bergulat dengan waktu. “Gue..hhh..minta maaf..”

“Ohh, ya udah, lepasin tangan gue” sahut ify datar. Membiarkan rio terpaku shock dengan reaksi yang ia dapat. Ify berjalan menjauh dari rio, berlari-lari kecil sambil menutupi kepalanya agar tidak terkena hujan.

Tidak mau kehilangan dan dipaksa berlari lagi, rio langsung menyongsong ify, memeluknya dari belakang. “Gue enggak mau lo ke jepang..” bisiknya, lirih, dan membuat ify terdiam.

“Gue enggak bisa..gue..enggak mau jauh dari lo..” sambung rio lagi. Ify tidak merespon apapun, ia masih saja diam. Kata-kata rio itu, serasa beban yang memaksanya untuk tetap tinggal.

“I..love..you..”

Tiga kata keramat penuh makna itu terlontar juga dari bibir rio. Di ucapkan dalam hujan yang mulai menderas. Dengan sedikit terbata, namun dalam satu tarikan nafas yang mantap dan tidak main-main. Delapan huruf yang mewakilkan lebih dari sejuta perasaan yang ada di dalam hati.

“Love you too..” balas ify, pelan, hanya bisa di dengar oleh rio dan hujan. Rio tersenyum sumringah, ia langsung saja menggendong ify dengan kedua tangannya. Berputar bersama, tertawa, seolah sedang menunjukkan pada dunia, gadis itu miliknya sekarang, saat ini, dan semoga seterusnya.

Setelah puas bermain hujan berdua, ify dan rio akhirnya memilih untuk berteduh. Rio meremas kedua tangan ify yang terasa dingin, mencoba menghangatkannya. “Mau pulang sekarang ? kayanya udah reda tuh, lagian bibir kamu juga udah putih gitu ?”

“Boleh..”

“Ya udah yo, eh tunggu..” rio berjongkok memunggungi ify.

“Mau ngapain yo ?”

“Gendong kamu sampai ke rumah..”

“Serius ?”

“Iya, cepetan naik makanya” ify menganggukan kepalanya, dan langsung naik ke punggung rio. Dan dua sejoli itu, berjalan berdua, menyusuri jalanan komplek yang basah, membiarkan udara menyelinap di antara mereka, menunjukkan pada semua bahwa mereka bisa bersatu.

“Kamu enggak capai apa, tadi udah lari dari sekolah sampai sini buat aku ?”

“Kan buat kamu, masa capai sih..”

“Huu..belum apa-apa aja udah gombal”

“Kan aku temennya alvin, sedikit banyak ketularanlah”

“Ihh, aku enggak mau ya, punya pacar playboy gitu”

“Haha, aku sih cuma buat kamu doanglah”

“Yakin ?”

“Banget”

“Sampai kapan ?”

“Sampai kapanpun. Sampai kita nikah, dan punya anak, sampai kita nikahin anak-anak kita, sampai kita jadi tua, selama itu..”

“Jauh amat kamu ngebayanginnya yo”

“Biarin. Aku janji sama kamu, aku bakal belajar yang benar, jadi orang sukses dan bahagiaan kamu selamanya”

“Amin..”

-----

Hari yang dibenci rio itu tiba, keberangkatan ify ke jepang. Kalau tidak ingat ini beasiswa dan kesempatan sekali seumur hidup, rasanya rio ingin membawa ify kabur ke suatu tempat, dan membiarkan pesawat itu terbang tanpa kekasihnya.

“Kamu beneran harus berangkat ?”

“Yo, tolong deh ya, gue aja udah muak denger pertanyaan itu, gimana ify” oceh alvin, yang bertindak sebagai supir mereka kali ini.

“Enggak usah nyamber deh vin” sahut rio kesal.

“Abisan elo yo, enggak bosen-bosen pertanyaannya itu terus”

“Coba aja kalau cewek lo mau pergi ke luar negeri, baru balik empat tahun kemudian, pasti lo bawel juga kaya gue”

“Enggak ah, motto gue kan, hilang satu dateng yang lain” jawab alvin enteng.

“Udah ah lo berdua..empat tahun lagi lo berubah dong vin, kalau gue balik kesini, udah ada satu yang lo kenalin ke gue, dan emang satu-satunya” ujar ify, membuat alvin terkekeh.

“Enggak janji ya fy..”

“Dasar ah lo..”

“Haha..udah gih, lo berdua turun disini, gue cari parkiran” perintah alvin, memposisikan mobilnya di pinggir selasar bandara. Rio langsung bergegas menurunkan koper-koper yang ify bawa dan meletakkannya di trolley. Lalu mendorongnya untuk ify.

Ify menghampiri agen beasiswa yang telah menunggunya, rio hanya memperhatikan itu, tidak lama lagi, mereka akan berpisah, dan baru bisa bertemu bertahun-tahun kemudian. Sesuatu yang baru rio bayangkan saja, sudah membuatnya merasa ingin menyerah.

“Aku kayanya harus masuk sekarang deh, ada yang masih harus diurus lagi di dalam”

“Enggak bisa nanti ? nunggu alvin gitu dulu kek..” sahut rio mencari alasan untuk terus bisa menahan ify.

“Aku harus masuk yo..”

“Please, sebentar lagi..” pinta rio sedikit memelas.

“Kita kan udah obrolin ini sebelumnya, jangan bikin aku berat kaya gini dong, aku kan juga belajar disana”

Rio menyerah, ify tetaplah ify. Ia memegang kedua pipi ify, lalu mengecup kening ify lembut, cukup lama, cukup membuat orang-orang yang ada disekitar mereka berhenti sejenak untuk mengamati itu.

“Aku sayang sama kamu, sayang banget, aku berangkat ya..” tidak ingin air matanya menetes dan membuat suasana ini menjadi mengharu biru, ify segera beranjak untuk menjemput mimpinya.

“Aku bakal jemput kamu disini fy, empat tahun lagi, aku bakal menunggu kamu fy, menunggu kamu..” ujar rio lantang, mengiringi langkah kaki ify yang menjauh.

Sepeninggal ify, rio duduk di bangku panjang, tangannya merogoh sebuah kotak berwarna biru yang baru saja ia keluarkan dari kantong celananya.

“Lho, ify mana yo ?” tanya alvin yang baru muncul.

“Udah berangkat..”

“Kok enggak nungguin gue..” gerutu alvin, ikut duduk disampinng rio. “Lho, itu, enggak jadi lo kasih ?”

“Enggak..” rio menggeleng. “Gue rasa sekarang bukan waktu yang tepat, empat tahun lagi, gue akan menanti empat tahun lagi vin”

“Sip bro, apapun, gue dukung elo” sahut alvin sambil menepuk-nepuk pundak rio.

-----

Tidak ada yang berubah, itulah yang ify lihat. Semua tetap sama, malah bertambah tidak karuan. Empat tahun menetap di negeri modern penuh teknologi, membuat ify jadi agak lebih kritis melihat pembangunan negaranya sendiri.

Ia menoleh kesana-kemari, mencoba melihat, kali-kali saja menemukan sosok rio yang empat tahun ini membuatnya rindu hampir setiap saat. Tapi diantara puluhan orang yang berdiri, tidak satupun yang terasa familiar dimatanya.

“Fy..” ify memutar badannya. Senyumnya melebar, dan dengan segera ia langsung memeluk orang yang menyapanya itu, tidak banyak berubah, apalagi mata sipitnya.

“ALVIN ! aaaa..gue kangen banget sama lo..”

“Gue juga..”

“Rio mana ?”

“Ayo ikut gue..” ajak alvin, sambil mengambil alih trolley ify.

“Kemana ? rio janji nunggu gue disini, jemput gue disini”

“Udah ayo ikut aja”

“Huu..dasar tuh orang, ingkar janji..” celetuk ify kesal. Alvin hanya tersenyum kecil, atau tersenyum hampa ?

Mobil alvin melaju menembus jalanan yang sudah lama tidak ify lewati. Tidak bosan-bosannya ify bertanya ke alvin, tentang hampir semua gedung baru yang bermunculan di kota ini.

“Orang tua lo, kapan datang dari bandung fy ?”

“Harusnya sore ini mereka udah sampai sini vin”

“Ohh..” alvin yang selama ini pintar berkata-kata bila dihadapan seorang wanita, kali ini terasa mati kutu dihadapan ify, bukan karena penampilan ify, yang berubah layaknya seorang model. Namun karena ia tidak mengerti, bagaimana cara menjelaskan semuanya pada ify. Ini terlalu rumit.

“Vin, kok kita kesini ?” tanya ify bingung, alvin hanya tersenyum lirih.

“Ayo fy..” tanpa menjawab pertanyaan ify, alvin turun dari mobilnya, dan segera menggandeng ify, membimbingnya sambil berharap dalam hati, akan ada bantuan yang membimbingnya untuk menyampaikan semua ini.

“Kita ngapain vin ?” ify menghentikan langkahnya. “Ini..”

“Ssstt..” alvin meletakkan telunjuknya di bibir ify. “Sebentar lagi..”

Dan mereka berdua berhenti di satu posisi. Bayang-bayang air langsung tercipta di mata ify, ia berkali-kali memandang alvin dan sebuah nisan putih dihadapannya.

“Vin..”

“Rio udah enggak ada, sejak setahun lalu” ujar alvin pelan, dan pedih. Ify langsung jatuh, berlutut di makam rio. Dengan gemetar, tangannya berniat untuk menyentuh nisan berukirkan nama orang yang selama empat tahun ini, tidak sedetikpun absen ia nantikan kehadirannya dalam setiap mimpinya.

“Ini bercanda kan vin ? kalian pasti mau ngerjain gue ? iyakan ?”

“Fy..”

“Rio udah janji mau nungguin gue vin, rio mau jemput gue !!” ify mulai kehilangan kendalinya.

“Dia jadi aktivis kampus, dan dia tetap rio yang emosinya mudah terpancing. Kampusnya terlibat tawuran sama kampus lain, dan dia jadi salah satu korbannya..”

“Stop vin ! cukup !!” teriak ify menutup kedua telinganya.

“Kita semua sengaja enggak mau ngasih tahu lo, sengaja nunggu kepulangan lo fy, maaf..” alvin ikut berlutut di samping ify, memeluk sahabatnya itu.

“I..ini..konyol vin..dia..dia masih tetap ngirim email ke gue..dia..”

“Itu gue fy, gue..”

“Enggak ! itu rio ! rio..” alvin mengeratkan pelukannya, mencoba meredam ify yang terus meronta dan berteriak-teriak.

“Ada satu permintaannya dia, dan izinkan gue untuk memenuhi janji gue ke sahabat gue fy..” bisik alvin. Ify tidak menggubrisnya sama sekali. Matanya hanya tertuju pada segunduk tanah di hadapannya.

Petikan dawai kesedihan, menyeruak pelan, memenuhi sudut-sudut hati. Menyisakan linangan tangis air mata, serta berton-ton kesedihan yang seolah tidak akan berujung. Semua terasa begitu hambar, seakan-akan mati rasa.

***

“...dan sahabat laki-laki itu..” papanya menoleh, dan terlihat malaikat kecilnya itu telah terlelap, menuju dunia mimpinya.

“Alvin..”

“Kamu udah pulang fy ? via ketiduran disini, biar aku gendong ke kamarnya dulu”

Ify tersenyum tipis, ia mengecup pipi putih via. Lalu duduk di hadapan meja riasnya, membersihkan sisa make up yang melekat di wajahnya. Tidak sampai sepuluh menit, alvin telah kembali lagi ke kamar mereka, duduk di ranjang.

“Hebat kamu vin, bisa bikin via tidur sampai sepulas itu”

“Aku baru nyeritain dia sebuah cerita”

“Dongeng putri-putri kesukaannya ?”

“Cerita tentang putri ify dan pangeran rio” ujar alvin pelan. Namun cukup untuk membuat ify menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah alvin.

“Vin..”

“Ada saatnya, via akan tahu, kemana kamu setiap tanggal 10, dan biarkan aku menceritakan itu dari awal fy” ify menatap alvin yang tersenyum ke arahnya, tapi menimbulkan rasa bersalah di hatinya.

“Jadi gimana makam rio ? tetap bersih kan ?” tanya alvin santai.

“Maafin aku vin”

“Buat apa fy ?”

“Untuk semuanya, tujuh tahun, kamu terlalu baik”

“Aku menjalankan amanat sahabatku fy..” lagi-lagi alvin tersenyum. Ia berdiri dan mendekat ke arah ify, menumpukan kedua tangannya di bahu ify. “Mungkin ini unik, mungkin kamu akan selalu mengunjungi makam rio setiap tanggal 10 untuk memperingati hari jadian kalian, mungkin kamu akan selalu mengingat rio sebagai yang pertama, via, baru aku, mungkin kamu akan lebih mengingat makanan kesukaan rio ketimbang aku..tapi aku tidak peduli..anggap saja ini persahabatan yang abadi, dan seorang sahabat tidak akan pernah berhenti di tengah jalan untuk meninggalkan sahabatnya..”

“Kamu..”

“Aku mau bikin kopi, kamu mau ?” ify hanya bisa menggeleng. Alvin mengangguk kecil dan segera keluar dari kamar. Menuju dapur dan menyeduh kopi hitamnya, rasa pahit, tempat pelariannya.

Di halaman belakang rumah, alvin duduk sambil meniup-niup kopinya. Ia sukses sebagai seorang pengacara muda sekarang, mempunyai rumah yang besar, mobil yang bisa dibilang mewah, anak yang lucu dan pintar, dan istri yang cantik. Meski bagian terakhirnya, alvin harus rela berbagi dengan sebuah kenangan yang sampai kapanpun ia berusaha, tidak akan mati.

“Gue udah menjaga ify semampu gue yo, gue udah menyematkan cincin itu seperti yang lo minta, dan sekarang, gue harap lo bisa bahagia disana yo..”

Alvin menyesap kopinya, membiarkan rasa pahit itu memenuhi rongga-rongga mulutnya. Dalam kesendiriannya itu, ia tersenyum lirih. Ini bukan terlalu baik seperti yang ify bilang. Ini hanya sebuah janji. Dan alvin percaya, meski hingga ujung nanti, keadaan akan tetap begini. Setidaknya ia telah berusaha. Lagipula ada via, alasan paling kuat, bagi alvin untuk terus bertahan.

..bertahan, berdiri di satu titik, terus menunggu, dan kadang menyelipkan harapan di dalamnya, menempuh ribuan kilometer, menerjang batas-batas tak terjamah, menyembunyikan segala rasa sakit di dalam hati..bertahan, tidak memerlukan keahlian apapun, hanya kesetiaan, dan sedikit pengorbanan, menunggu meski mungkin yang ditunggu tak akan pernah hadir..bertahan, manusiawi, kadang terlihat bodoh, dan menggelikan..bertahan, tidak peduli seperti apa hari esok, selama kaki masih mampu berdiri tegak..bertahan, untuk yang indah pada waktunya..

TAMAT

CERITA BIASA

cerita biasa (cerpen)

oleh Anindhiya Agustianing Putri pada 16 Desember 2010 jam 20:35

Ini hanya sebuah kisah biasa.

Tentang persahabatan, tentang masa remaja yang menyenangkan.

Kisah yang bisa kamu temukan dalam hidupmu sendiri.

Percayalah.

Ini hanya tentang persahabatan.

Ini bukan kisah romeo dan juliete.

Hanya sebuah kisah sederhana, dan sangat biasa.

Persahabatan.

***

Suara pantulan bola basket serta derap kaki, bagaikan menjadi pengiring musik yang khas. Belum lagi gelak tawa yang ceria. Suasana kebahagiaan yang sederhana namun luar biasa. Empat anak laki-laki itu, asik larut dalam permainan mereka. Saling mengoper dan melempar bola. Berkejaran dan berlarian. Tidak peduli meski masing-masing dari mereka telah ada di umur tujuh belas, tidak peduli meski di dompet mereka telah terselip kartu tanda penduduk, tidak peduli meski matahari telah turun perlahan ingin kembali ke peraduaannya. Mereka terus saja bermain. Bermain dan bermain.

“Host...host...”

“Lo enggak apa-apa kan ? duduk dulu deh..” dua orang di antara mereka, menepi ke pinggir lapangan. Memaksa salah satu di antaranya, untuk duduk.

“Kenapa ?” tanya yang lain, yang baru datang.

“Dia..”

“Enggak, gue enggak apa-apa, ayo main lagi..” ujarnya yang di suruh duduk tadi.

Tiga laki-laki itu, sekarang menatapnya tajam, seolah-olah mereka berumur jauh lebih tua darinya. Seperti ia adalah anak kecil yang baru saja melakukan kesalahan dan akan segera di marahi.

“Serius gue enggak apa-apa..” laki-laki itu mencoba menatap mata temannya yang lain, berusaha meyakinkan, meski ia mengerti mukanya saat ini sama sekali tidak menggambarkan kalimat ‘..enggak apa-apa’ yang baru saja di ucapkannya.

“Udahlah, lagian ini juga udah sore, kita mainnya yang udah terlalu lama”

“Jangan berhenti cuma gara-gara gue” masih ujarnya lagi. Ia menyandarkan kepalanya di dinding, masih berusaha mengatur nafasnya.

“Haha..pede banget lo ! lagian gue juga udah capek kok” sahut temannya yang lain. Menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

“Tapi serius, gue masih bisa main”

“Besok lagi aja deh mainnya, istirahat dulu sekarang..” timpal yang satunya lagi.

“Thanks” desahnya pelan. Ia tersenyum, semuanya juga tersenyum. Senyum yang hangatnya melebihi dekapan selimut setebal apapun. Senyum yang indahnya melebihi keelokan langit sore. Senyum yang menenangkan melebihi kata-kata bijak dari seorang filsafat sejati. Senyum seorang sahabat.

***

Kemenangan terbesar dalam hidup, adalah ketika kamu menemukan sahabat-sahabat terbaik sepanjang masa.

***

Hari senin. Hari yang di tasbihkan menjadi hari yang paling menyebalkan. Bukan salahnya memang, hanya takdir yang membuatnya menjadi yang pertama, apalagi ia hadir setelah hari minggu yang menyenangkan.

Sepi. Itulah yang saat ini di rasakannya. Hari senin yang menyebalkan. Pelajaran matematika yang menjemukan. Dan hari ini ia harus duduk sendiri. Berkali-kali ia menoleh ke sebelah kanannya, yang tetap saja kosong. Tidak berpenghuni.

“Yo..Rio..pssttt..Rio..”

Merasa di panggil. Ia langsung celingukan kesana-kemari. Mencari darimana sumber suara itu berasal.

“Yo, itu Cakka disana..” Lintar yang duduk di belakangnya, menunjuk ke arah jendela kelas mereka. Dan terlihatlah wajah cakka tersembul sebagian disana. Dengan telunjuknya, Rio tahu, Cakka memberinya isyarat untuk keluar kelas. Dan tanpa perlu di beri tahu lebih lanjut lagi, Rio juga mengerti, apa yang akan mereka lakukan.

“Pak..” Rio langsung mengangkat tangannya. “Saya mau ijin ke kamar mandi”

“Cepat sana, cepat..”

“Iya pak..” buru-buru Rio langsung keluar dari kelasnya. Dan menghampiri Cakka.

“Iel mana ?”

“Dia lagi ada ulangan, gimana dong ?” tanya Cakka balik.

“Ya udah tungguin aja bentar”

“Oke deh, ayo..”

“Eh kka, elo kenapa enggak sms aja sih ?”

“Hehe..hape gue mati lupa ngecharge” tukas Cakka. Rio hanya menganggukkan kepalanya. Mereka berjalan ke arah kelas Iel. Kira-kira tiga puluh menit, mereka menunggu sambil memperhatikan Iel. Dan ketika Iel terlihat sudah selesai bergulat dengan soal-soalnya, dengan tampangnya yang stay cool itu, Rio mulai mengambil bagiannya, menjalankan aksinya.

“Tok..tok..permisi bu..” ujar Rio sopan, berdiri di ambang pintu kelas Iel.

“Ada apa Mario ?”

“Saya mau ijin manggil Gabriel bu, ada urusan sebentar tentang buku tahunan”

Iel yang juga sudah dapat menebak, apa yang sedang di jalankan kedua sahabatnya itu. Hanya tersenyum kecil, sambil bangkit dari kursinya, dan berniat mengumpulkan kertas ujiannya.

“Kamu sudah selesai Gabriel ?”

“Sudah bu..”

“Ya sudah, ibu ijinkan kamu untuk pergi dengan Mario”

“Makasih bu..” dua orang itu, mencium tangan guru mereka, dan segera keluar kelas.

“Cakka mana Yo ?”

“Lagi ngurusin bagiannya..udah ayo kita ke parkiran aja” ajak Rio, sambil merangkul sahabatnya itu. Mereka berdua sudah siap di motor masing-masing, hanya tinggal menunggu Cakka, beberapa kali sudah Iel melirik jam tangan yang melingkar di tangannya.

“Udah sepuluh menit, keburu bel istirahat entar”

“Sabar Yel..”

“Eh, ngomong-ngomong kita udah lama ya enggak gila kaya gini” ujar Iel sambil memutar-mutar kunci motor di tangannya.

“Haha, hitung-hitung refreshing kelas tiga Yel..” sahut Rio.

“Sori lama..” kedatangan Cakka, memotong obrolan mereka. “Nih lihat dong, apa yang gue punya..”

“Apaan tuh ?” Iel mengambil secarik kertas yang ada di tangan Cakka. “Surat ijin keluar sekolah ? dapet darimana lo ?”

“Serius surat ijin sekolah ? ahh..gila banget lo Kka..sadis” timpal Rio.

“Haha..gue gitu, udah ayo ah, berangkat..” Cakka memakai helmnya, begitu juga Rio dan Iel. Dan ketiga motor itupun melesat meninggalkan parkiran, melewati pos satpam dengan lancar, dan tentu saja melupakan segala macam pelajaran di hari itu.

***

Suara gaduh di luar, membangunkannya. Pandangannya agak buram dan kepalanya agak berat. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya, ia mencoba untuk menyandarkan tubuhnya ke kepala tempat tidur.

Klek.

“Cakka ?”

“Wess, udah bangun lo bro..”

“Rio..”

“Kata nyokap lo, lo masih tidur..”

“Iel..”

“Gimana vin, baikkan ?”

“Kalian ngapain kesini ?”

“Mau nemenin elo lah..” sahut ketiganya kompak. Dan mengambil tempat favourite mereka masing-masing. Iel di kaki tempat tidurnya, Cakka di di kursi belajarnya, dan Rio di kusen jendela yang langsung menghadap ke taman.

“Enggak sekolah ?”

Tidak ada yang menyahut, mereka saling berpandang-pandangan dan melemparkan cengiran-cengiran yang Alvin kenal, sebagai cengiran saat mereka berbuat suatu hal gila.

“Kalian cabut ya ?”

Masih tidak ada yang menyahutinya. Membuat Alvin jadi kesal sendiri. “Kalau enggak ada yang jawab, gue usir lo semua” katanya tajam.

“Eh, jangan dong, perjuangan nih bisa kesini, enak banget lo mau ngusir” jawab Cakka akhirnya.

“Ya udah, terus kenapa bisa kalian kesini, ini kan masih jam pelajaran. Kalian cabut beneran..”

“Gitulah Vin” sahut Iel.

“Ahh, gila, parah lo semua !”

“Yah Vin, elo jangan marah gitu dong, maksud kita kan baik, mau jengukin elo, mau nemenin elo, lagian lo tega apa biarin gue duduk sendirian hari ini” ujar Rio, beranjak dari tempatnya mendekat ke arah Alvin.

“Tapi enggak kaya gini juga, kita udah kelas tiga, kalau gue kan emang dispensasi, kalau elo bertiga ? lagian elo kaya enggak biasa duduk sendiri aja sih Yo, dalam sebulan berapa kali sih lo harus duduk sendiri tanpa gue”

“Ini bentuk solidaritas kita sob..” ucap Iel pelan, menyadari nada suara Alvin yang mulai tajam.

“Solidaritas macam apa sih Yel ? gue aja enek kalau harus ada di rumah kaya gini, gue aja pengen bisa terus pergi ke sekolah, tanpa perlu ada halangan apapun, dan elo bertiga malah kaya gini ! sarap tahu enggak !”

Melihat Alvin mencak-mencak seperti itu, Rio, Iel, dan Cakka jadi merasa bersalah sendiri. Mereka saling berpandang-pandangan, dan entah karena naluri batin mereka yang memang sudah terlalu tertanam kuat atau bagaimana, mereka sama-sama tahu, apa yang harus mereka lakukan saat ini.

“Ya udahlah, mungkin better kalau elo istirahat sendiri sekarang, kita balik deh ke sekolah..” ujar Cakka. Berdiri dan mencoba tersenyum ke arah Alvin, yang masih menatapnya tajam.

“Cakka benar, lagian adanya kita disini, malah bikin elo enggak bisa istirahat lagi” timpal Iel.

“Ya udah, kita balik ya Vin, get well soon” sambung Rio. Mereka bertiga beriringan, menuju pintu kamar Alvin.

Alvin menghela nafas, melihat sahabat-sahabatnya itu. Bukan ia tidak senang mereka kemari, hanya saja, cara yang mereka tempuh ini sama sekali tidak Alvin sukai.

“Ouh..shitt..” Alvin mengumpat pelan, ketika ia merasa cairan kental mulai mengalir dari kedua lubang hidungnya, dan kepalanya bertambah berat. Semua tampak berbayang. Alvin berusaha menggapai-gapai tisu, yang tempatnya terletak di meja kecil samping tepat tidurnya.

“Prang !!”

“ALVIN !”

Suara Rio, Iel, dan Cakka seperti bersatu, memanggilnya. Namun semua tampak berputar, berpusar, dan tiba-tiba menggelap. Hitam dan pekat.

***

Wajah-wajah itu langsung tampak memenuhi bola matanya, ketika Alvin akhirnya sadar. Desahan serta senyum lega, terdengar jelas di telinganya.

“Mau minum Vin ?” tawar Iel, yang kini ada di sisi sebelah kirinya.

“Enggak..” sahut Alvin lirih. Ia mencoba mengangkat kepalanya, tapi semua masih terasa berat.

“Jangan di paksain” ujar Rio. Menumpukkan bantal untuk Alvin, agar meski dalam posisi tidur pun, Alvin masih bisa melihat sahabat-sahabatnya itu.

“Kok kalian masih disini ?”

“Vin, kita ini sahabat lo ! enggak mungkin banget tadi kita tetap aja balik ke sekolah, pas ngelihat elo pingsan kaya gitu,

udahlah lagian udah jam segini juga, percuma aja balik ke sekolah, bunuh diri yang ada..” cerocos Cakka.

“Sori..” desah Alvin pelan.

“Buat ?” tanya Iel.

“Udah bikin kalian tetap ada disini dan bukannya balik ke sekolah”

“Haha..yang ada juga kita kali, yang bilang makasih, elo udah ngasih kita libur sehari dari pelajaran-pelajaran enggak

guna itu”

“Ahh iya, Rio bener. Gue bebas dari matematik sama kimia hari ini, surga banget !” sambung Cakka.

Alvin terkekeh pelan. “Jangan di ulangin lagi, ini terakhir kalinya, kalian cabut dari sekolah, cuma demi gue..”

“Siap bos !” tukas Iel sambil berlagak hormat ke arah Alvin. “Lagian ini kaya nostalgia juga sih, dulu kan smp kita sering banget ngelakuin kaya gini, terakhir kita kaya gini kapan ya ?”

“Awal-awal kelas sebelas, pas gue baru balik dari rumah sakit” sahut Alvin. Ia tidak akan pernah lupa, semua hal yang pernah sahabatnya lakukan untuk dia, meski dengan cara yang tidak tepat, tapi tetap saja, ketulusan di balik itu mampu membuat Alvin dapat membusungka dadanya, membanggakan pada dunia, bahwa ia memiliki sahabat terhebat di muka bumi ini, sukur-sukur hingga ke surga nanti.

“Gimana tadi kaburnya ? emang enggak ditanyain sama satpam ?” kali ini Alvin malah penasaran, apa yang sahabatnya lakukan agar bisa semudah itu keluar dari pagar sekolah mereka. “Atau kalian manjat tembok lagi ?”

“Enggak dong, masa udah mau 2011 gini, masih jaman aja manjet pager, tadi kita pakai cara yang lebih elegan Vin..haha..” jawab Cakka bangga. “Gue berhasil dapetin surat ijin keluar, plus tanda tangan piket hari ini”

“Kok bisa ?” tanya Alvin tidak mengerti.

“Haha..gue gitu..jadi tadi pas gue mau ngelobi satpam, biar ngasih kita ijin keluar, gue ketemu sama Agni, ternyata dia mau ngurusin lomba basket putri di luar, nah ya udah sekalian aja gue minta tolong ke dia, buat sekalian ngambilin surat ijin plus tanda tangannya..canggih kan gue ?” terang Cakka sambil menaik turunkan alisnya.

“Woo..kalau gitu sih, Agni yang canggih, bukan elo..” cibir Rio sambil melayangkan sebuah bantal ke muka Cakka.

“Ahh tetep aja, kalau enggak karena pesona gue, Agni pasti enggak bakal mau ngelakuinnya” sahut Cakka pede, dan kembali melemparkan bantal itu ke arah Rio. Iel dan Alvin hanya bisa tertawa melihat kelakuan dua orang tersebut.

***

Seorang sahabat, tidak akan pernah menjauh seincipun, ketika sahabatnya membutuhkannya.

***

Bel berakhirnya pelajaran terakhir telah berbunyi sejak satu jam yang lalu. Tapi tiga orang itu masih berkutat dengan pekerjaan baru mereka, yang sama sekali tidak elite, membersihkan kamar mandi sekolah.

“Yel, bagian itu udah gue pel, kenapa elo siram air lagi sih !” protes Cakka.

“Eh ? haha..mana gue tahu Kka, sori deh, ya udah pel lagi sono..” sahut Iel enteng, sama sekali tidak merasa salah.

“Ah elah, elo berdua rame amat dari tadi, kapan selesainya ini ?!” timpal Rio kesal, yang dalam hukuman kali ini, kebagian tugas mengosek toilet.

“Belum selesai juga elo bertiga ?”

“Nah elo Vin, udahan ulangan susulannya ?” bukannya menjawab, Cakka malah melemparkan pertanyaan lain ke Alvin.

“Udah, mana yang bisa gue bantu ?”

“Eits, diem aja lo disitu ! lagian ini hukuman kita bertiga, elo enggak usah ikut campur” perintah Iel.

“Sini ah..” Alvin melepas jaketnya, menggantungnya di pintu, mengambil pel yang ada di tangan Cakka, dan mulai mengepel. “Lagian kalian di hukum kaya gini kan, karena mau nemenin gue..”

“Tapi Vin ...” Rio menatap Alvin, cemas.

“Udah ah, ayo kerja-kerja, biar cepetan beres..”

Tahu, akan percuma saja, jikalau mereka terus melarang Alvin. akhirnya mereka berempat mulai kembali melakukan pekerjaan mereka masing-masing. Lagipula, sepertinya inilah yang paling pantas di sebut dengan persahabatan. Ada di tempat yang sama, bersama-sama, bukan hanya untuk tertawa, tapi juga untuk letih bersama. Meski di dalam sebuah kamar mandi.

***

Setelah hampir satu setengah jam, berada di kamar mandi yang pengap serta sempit itu. Mereka berempat kini sedang duduk-duduk di gazebo rumah Alvin, menikmati hembusan angin sore yang menyejukkan.

Selalu seperti ini. Rumah Alvin, dan gazebo ini, seperti telah menjadi markas tetap persahabatan mereka. Dulu, saat mereka sd, mereka sering main disini karena Alvin yang memang tidak di perkenankan untuk main terlalu jauh. Tapi semakin kesini, semakin banyak kenangan yang mereka torehkan disana, semakin tidak dapat dipisahkan juga mereka dari gazebo ini.

“Hahh..” Alvin mendesah, dan agaknya terlalu keras, sehingga semua teman-temannya kini mengarahkan wajah mereka

ke arahnya.

“Kenapa Vin ?” tanya Rio, yang duduknya paling dekat dengan Alvin.

Alvin menggeleng sambil tersenyum kecil. Pertanyaan ini, seolah menjadi pertanyaan wajib, yang paling sering Rio, Iel, dan Cakka tanyakan padanya. Pertanyaan biasa, yang selalu terdengar penuh kepanikan dan di ucapkan dengan wajah khawatir oleh teman-temannya. Pertanyaan sederhana, namun berarti bagi Alvin, karena hanya dengan pertanyaan itu, Alvin bisa merasakan ketulusan sahabat-sahabatnya.

“Serius enggak kenapa-napa ?” tanya Rio lagi, ketika tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Alvin.

“Sumpah deh gue baik-baik aja, kan kemarin udah mimisannya, masa sekarang lagi” jawab Alvin enteng.

“Ya enggak gitu juga sih Vin, kita kan cuma khawatir aja sama elo” sambung Iel.

“Iya gue tahu..” tukas Alvin. “Tapi lo semua ngerasa enggak sih, semakin kesini, elo semua sama aja kaya nyokap gue, makin protect sama gue..”

“Enak aja lo ngomong, gue di samain sama nyokap lo lagi” sahut Cakka tidak terima.

“Haha..abisan, dulu lo semua enggak gini-gini amat ah, coba sekarang, dikit-dikit pasti khawatir banget sama gue. Ya iya sih gue tahu, sakit gue emang tambah parah, mau mati malah kayanya ta...”

“Vin ! elo asalan banget sih kalau ngomong !” potong Rio. Ia paling tidak suka jika Alvin mulai menyisipkan kata ‘mati’ dalam kalimatnya. Meski Rio tidak bisa memungkiri itu hal yang paling mutlak dalam hidup ini.

Alvin diam melihat kilat kemarahan di mata Rio. Tidak jadi melanjutkan kata-katanya. Tapi sampai kapan, semua harus pura-pura menganggap bahwa umurnya akan panjang. Alvin bukan lagi, Alvin yang berusia sepuluh tahun, yang diberi tahu bahwa ia menderita sebuah penyakit dan suatu saat nanti ia akan sembuh. Alvin telah mengerti sekarang, bahwa harapan-harapan itu hanya kosong belaka, menguap di telan waktu.

“Dulu, waktu elo pertama kalinya di rawat, saat itu gue ngeyakinin diri gue sendiri kalau elo itu cuma sakit biasa, sekedar demam, dan bakal sembuh..” Iel tiba-tiba saja bersuara di tengah-tengah keheningan itu.

“Dan gue inget banget waktu itu, waktu gue jenguk elo di rumah sakit, nyokap lo nangis dan nyokap gue meluk nyokap lo. Gue sama sekali enggak ngerti, kenapa nyokap kita harus kaya gitu. Waktu itu gue disuruh masuk sendiri ke kamar rawat lo, dan elo baik-baik aja di mata gue, enggak ada yang salah..sama sekali enggak ada..” Iel melanjutkannya. Menerawang dalam waktu yang telah terlewati dengan susah payah.

“Tapi setelah itu, elo enggak lagi boleh ikut pelajaran olahraga sama upacara, enggak lagi boleh main sepedaan sama kita, dan elo jadi minumin obat setiap hari. Tapi waktu itu gue masih mikir, kalau elo masih dalam penyembuhan, dan emang obatnya harus habis kaya antibiotik yang dokter kasih kalau gue lagi sakit..” tersenyum simpul, Iel mengajak semuanya lebur dalam kisah itu.

“Gue juga inget..” sebelum Iel menyambung kata-katanya lagi, Cakka terlebih dulu membuka suaranya. “Gue juga boleh ngomong kan Yel ?”

“Bolehlah Kka..”

“Inget, waktu itu, kita main, gue lupa kita main apa, tapi yang jelas elo mimisan banyak banget. Terus pas sampai ke rumah lo, gue, Rio sama Iel di ajak ngobrol sama nyokap bokap lo, waktu itu gue kira kita bakal di marahin, ternyata enggak. Bokap lo malah bilang, kita harus ngejagain elo, harus ngingetin elo biar enggak sering capek-capek, dan kalau perlu marah sama elo kalau elo enggak mau di kasih tahu. Waktu itu gue tanya kenapa, tapi bokap lo cuma bilang, suatu hari nanti kita bakalan tahu..”

“Terus waktu itu juga, guru-guru jadi perhatian banget sama lo. Mereka pasti panik banget kalau elo pucet dikit aja, dan jujur ya Vin, gue iri berat sama elo waktu itu. Lo tuh kaya jadi anak emas semua guru, enggak ada yang marah kalau elo enggak masuk, dan elo selalu bisa bebas dari kegiatan-kegiatan yang berhubungan sama fisik..” sambung Cakka lagi, tersenyum kecil, mengingat ia yang dulu paling vokal, menganggap guru-guru berlaku tidak adil.

“Gue juga mau dong..” pinta Rio, seolah saat ini adalah waktunya untuk membagi pengalaman mereka tentang Alvin. Cakka hanya mengangguk. Sementara Alvin, si objek yang dibicarakan sejak tadi, hanya bisa diam mendengarkan.

“Kelas satu smp, gue maksa ke nyokap gue buat ngasih tahu apa penyakit lo, dan akhirnya gue tahu. Jadi saat itu, diam-diam gue udah ngerti sakit apa yang ada di tubuh lo. Gue takut banget waktu itu, dan gue sama sekali enggak ngerti apa yang bisa gue lakuin buat bikin elo tetep tinggal disini sama kita..”

“Sampai akhirnya, pas kelas dua smp, dan elo cerita ke kita, lo sakit apa dan kenapa, dan ngelihat elo bisa tegar kaya gitu, gue pikir kenapa gue enggak bisa. Tapi setegar-tegarnya gue, gue tetep aja ngerasa takut, itu sebabnya mungkin kenapa elo nganggep kita jadi lebih protect ketimbang dulu, karena semakin kesini, gue juga semakin ngerti sama keadaan lo, dan semakin kesini, semakin banyak waktu yang kita berempat laluin jadi kenangan..” Rio menepuk-nepuk pundak Alvin pelan.

“Gue bukan siapa-siapa tanpa kalian” ujar Alvin pelan, memandang temannya satu persatu-satu.

“Gue penyakitan dan lemah. Gue enggak pernah aktif di osis kaya kalian bertiga, enggak bisa juga jadi bintang basket atau olahraga lainnya karena fisik gue yang enggak mengijinkan untuk itu, badan gue terlalu kurus dan pucet buat jadi idaman cewek-cewek cantik di sekolah, otak gue apalagi, satu bulan, bisa ada satu minggu sendiri gue enggak ikut pelajaran, orang tahu gue, karena gue sama kalian..”

“Enggak gitu juga ah Vin..” sanggah Iel.

“Kaya gitu Yel. Orang kenal gue, oh Alvin temennya Iel yang mpk itu ya, atau Alvin yang suka sama Rio ketua osis itu kan, ehm..Alvin yang sering nemenin ketua basket si Cakka ya..selalu kaya gitu, tapi coba kalau gue sendiri, orang tahunya ya gue yang penyakitan, jarang masuk, tapi selalu sukses naik kelas..”

“Serius Vin, ada yang bilang gitu ? minta di tampol tuh orang” sungut Cakka sengit.

“Buat apa Kka ? gue enggak peduli. Emang gue kaya gitu kok, emang gue Alvin looser yang ada di antara tiga orang hebat, dan gue enggak keberatan akan hal itu. Yang penting kaliannya mau nerima gue apa adanya, padahal gue suka nyusahin kaya gini, sama sekali enggak ada keuntungannya temenan sama gue”

“Elo ngomong apaan sih Vin ? siapa bilang temenan sama elo enggak ada keuntungannya ? gue bangga punya temen kaya elo, dan akan selalu kaya gitu !” sahut Rio.

“Thanks, kalian emang yang paling the best..”

***

Tidak akan ada perpisahan yang menyenangkan, yang ada hanya doa agar suatu saat dapat berjumpa kembali

***

Deruan nafas yang tidak teratur, rasa sakit yang bagai meremas tulang-tulang secara sengaja, darah yang terus mengalir bagai kran air yang lupa ditutup, dan kesadaran yang perlahan dan demi perlahan tergerus.

“Vin..Alvin..”

Suara itu. Seperti ada tangan yang mengguncang-guncang tubuhnya. Tapi jangankan untuk membuka matanya, bahkan dalam ke adaan terpejam seperti inipun, rasa sakit itu terus saja mendera tanpa ampun. Terus saja memeluknya erat.

“Alvin, lo denger gue kan ? ini gue Rio, Alvin !!”

“ALVIN !! VIN !!”

Dan semua tiba-tiba seperti diam. Berhenti. Tidak ada lagi suara, sama sekali tidak. Tapi rasa sakit itu masih saja tersisa. Membuat seluruh tubuhnya terasa berat.

***

Doa dan lantunan harapan, bergaung terus menerus di dalam hati mereka. Tangan-tangan di angkat, menengadah, meminta kepada Ia, satu-satunya Zat yang paling berkuasa atas segala kuasa di alam ini.

Ini bukan untuk pertama kalinya. Sudah berpuluh-puluh kali, mereka pernah ada di kondisi yang sama seperti ini. Menanti tanpa harapan yang pasti. Berharap masih ada satu hari atau malah lebih, untuk di tambahkan pada umur Alvin.

Tangan Rio bergetar hebat. Bayangan wajah pucat Alvin, dan darah yang terus keluar dari lubang hidungnya, terasa terus berkelebat di pikirannya. Rio benar-benar tidak menyangka akan menemukan Alvin dalam keadaan seperti itu. Ia memandangi ujung kaosnya, yang penuh bercak darah.

“Dia pasti baik-baik aja Yo..” ujar Iel yang duduk di sebelahnya, meski gurat kecemasan juga terpeta jelas di wajahnya.

“Alvin kuat, kita harus percaya sama dia” timpal Cakka.

Kedua orang tua Alvin tersenyum tipis, melihat bahwa anak mereka, memiliki sahabat yang tidak sedetikpun pernah berniat untuk pergi, meski keadaannya seperti ini. Bukankag itu suatu yang patut di banggakan ?

Seorang dokter keluar dari kamar perawatan Alvin, yang langsung mereka hampiri. “Kalian semua di tunggu oleh Alvin di dalam”

“Sudah, kalian bertiga aja yang masuk duluan, om sama tante biar ketemu sama dokter dulu” bujuk papanya Alvin. ketiga orang itu mengangguk, dan segera masuk ke dalam kamar Alvin.

“Hei..” sapa Alvin parau, mencoba tersenyum di balik masker oksigen yang menyelubungi wajahnya.

“Lo bikin gue takut Vin” sahut Rio.

“Gue masih ada disini” ujar Alvin pelan. “Untuk beberapa waktu..” sambungnya lirih.

“Berhenti ngomong, seolah-olah lo mau mati besok” celetuk Iel datar, menatap Alvin memohon.

“Kita kenapa sih ? jangan pada kaya gini ah lo semua, kitakan harusnya seneng, Alvin udah sadar” Cakka mencoba untuk tidak ikut terpengaruh pada suasana, yang entah kenapa terasa begitu suram ini.

“Gue pengen kita ngeband lagi”

“Apa Vin ?” tanya Cakka, yang agak kesulitan mendengar perkataan Alvin.

“Ngeband, gue mau ngeband lagi..” ulang Alvin.

“Iya, entar kalau elo udah keluar dari sini, kita ngeband lagi” jawab Iel. Layaknya seorang ayah, yang menjanjikan sesuatu pada anaknya.

Dan semua tiba-tiba saja diam. Duduk mengelilingi Alvin. Namun meski tanpa kata-kata, semua terasa tersampaikan, rasa sayang itu, kepedulian itu, aroma persaudaraan yang kental. Semuanya, begitu terasa.

***

Semua saling berbisik-bisik. Tidak mengerti, mengapa harus di kumpulkan di aula sekolah siang-siang begini. Dan segala kasak-kusuk itu kian menjadi-jadi, ketika Alvin, Rio, Iel dan Cakka keluar ke atas panggung dan mengambil alat musik masing-masing.

“Siang semuanya..” sapa Alvin, yang kali ini bertindak sebagai vokalis.

“Maaf kalau gue ganggu waktu belajar kalian, oh ya by the way, kalian kenal enggak ya sama gue ? kalau sama, yang ada di belakang, pasti kenal semua doang, ada Rio, Cakka dan Iel. Gue sendiri Alvin, angkatan 28, dari 12 ips 1, mungkin banyak yang enggak kenal gue karena gue jarang masuk, tapi sekali ini aja, gue pengen ngasih sesuatu buat sekolah ini..”

Cakka yang ada di balik drum, Iel yang memegang Bass serta Rio dengan gitarnya, menatap Alvin lirih. Hanya ini yang bisa mereka bertiga lakukan, memohon kepada sekolah, agar bersedia mengijinkan untuk acara kecil ini. keinginan mereka hanya satu, hanya ingin, Alvin tidak hanya menorehkan kenangan di hati mereka bertiga, tapi juga di seluruh sekolah ini.

Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali

Kita berbincang tentang memori di masa itu

Peluk tubuhku usapkan juga air mataku

Kita terharu seakan tidak bertemu lagi

Suara Alvin yang sedikit serak, entah mengapa terasa mengirisi ulu hati Cakka, Rio dan Iel. Belum lagi lagu pilihan yang Alvin pilih ini.

Bersenang-senanglah

Kar'na hari ini yang 'kan kita rindukan

Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan

Bersenang-senanglah

Kar'na waktu ini yang 'kan kita banggakan di hari tua

Sampai jumpa kawanku

S'moga kita selalu

Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan

Sampai jumpa kawanku

S'moga kita selalu

Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan

Bersenang-senanglah

Kar'na hari ini yang 'kan kita rindukan

Di hari nanti...

Mungkin diriku masih ingin bersama kalian

Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian

“Prokkk....prokkk..”

“Makasih semuanya..” untuk pertama kalinya, Alvin merasa ia bisa melakukan sesuatu, tidak hanya bergantung pada orang lain. Tapi rasa bangga sesaat itu, tiba-tiba saja berganti menjadi rasa sakit yang tidak tertahankan, dan semua kembali gelap. Benar-benar gelap.

***

Titik-titik air mata, masih saja menetes meski hanya satu-satu. Tidak ada yang akan tetap berdiri tegak, ketika sahabat terbaik akhirnya pergi. Semua akan terasa pekat dan gelap. Dan mungkin akan berlangsung untuk beberapa waktu. Tapi siapa peduli. Yang terbaik yang pernah ada di hidupmu baru saja pergi. Kamu berhak untuk menangisinya.

Bukan cengeng. Bukan juga lemah. Ini hanya fase kehidupan, manusiawi. Setidaknya percayalah, kamu telah memberikan semua yang terbaik yang kamu punya, untuknya, yang kamu bilang sahabat.

Dan saat kamu meyakini, bahwa ia telah cukup bahagia, maka lepaskanlah, karena percuma saja terus menahannya. Sahabat terbaik datang untuk menemani langkahmu. Jadi teruslah pegang itu, meski ia pergi, kakinya tidak akan pernah beranjak jauh dari tempatmu.

Yang terbaik, adalah ia yang datang, untuk siap kamu bagi dengan segala dukamu, dan tidak pernah dendam saat kamu lupa membagi tawamu untuknya.

***

Kisah biasa kan ?

Hanya tentang persahabatan.

Persahabatan yang indah. Namun tetap saja, hanya sebuah..

Cerita biasa..

Kamis, 22 September 2011

SUMPAH NGAKAK PASTI BACANYA!!

gue alvin dan gue PHOBIA BANCI - cerpen (tanpa ada adegan lesbong atau porno) READ + COMMENT

oleh RiObiet Ray Deva CakkAlvin pada 10 Juli 2010 jam 12:05
Haaiii audieeeennncee... gua Alvin. udah pada tau, kan? kalo gak tau, kebangetan lo. Tunggu, Alvinoszta, jangan ngamuk. tadi pagi gua sarapan 2 toa, jadi kalo teriak kenceng banget. gue ini udah mahasiswa, dan gua punya kakak, namanya Rio. gua tinggal serumah ama doi. kak Rio udah kerja. dan sesuai judul.. *lirik ke atas* gue bakal nyeritain kalo gue phobia 100% sama yang namanya BANCI!! ini dimulai pas gua SMP kelas 9... penulis, flashback!!



.....



penulis? mati lo? eh, lagi mati lampu. flashbacknya ga bisa nyala. tungguin dulu, ye.



.....



oke, listrik udah nyala lagi. ternyata penulis barusan ke PLN, ngancem mo dibakar tuh kantor pusatnya. pada takut, jadi dinyalain lagi. oke, penulis.. gua suka gaya lo..



FLASHBACK : ON



Hari ini tanggal 17 Agustus, dan gue, Alvin, pergi ke lapangan buat ngeliat lomba yang diadain di sono. gua dateng bareng sohib tercinta gue, ray. gua duduk di kursi barisan kedua, di depan sebuah stage. mo ada lomba dance khusus cewek.



"Ajiiibb.. ceweknya cakep-cakep, Vin." ujar Deva sambil nadahin ilernya pake ember.

"Iye, apa kata lo."



Yang bikin gua kaget, peserta terakhirnya itu banci...



"Buset.. salah naik panggung tu orang.." gumam ray.



gua bener-bener mual, tu banci bukannya dance, malah kayak orang lagi mumet malah breakdance. ergh... coba lo bayangin... seorang banci yang notabene bermuka sangar dan bertubuh kekar, nari-nari pake baju ketat mejikuhibiniu, pake rok mini dan pegang pom-pom dengan catetan, narinya pake NOS alias cepet banget. ergh, dia berhasil bikin bokong gua gemeter dan bulu hidung gua berdiri.



begitu tu banci turun panggung, keringetnya boo... baunya nyebar.. kayak genderuwo habis latian sparta ngelilingin pulau jawa satu bulan. Yang bikin gua histeris, tu banci ngeliatin gue sambil kedip-kedip. ergh.. gue bener-bener pengen pergi dari sini.



"ray, pulang yuk.."

"Apaan, sih? masih banyak lombanya! kalo mo pulang, duluan aja."

"Yaudah, gue duluan.."



Akhirnya gue beneran pulang. Awalnya gua udah tenang, tapi ternyata banci itu ngikutin gue dari belakang. oke, gua tau gua cakep, tapi yang suka jangan banci, dong!



"Eh, situ artis korea, ya.. lucu banget, deh.. ayo, sini.. eike peluk.. jangan khawatir,masih perawan, kok.."

"perawan gigi lu monyong?! jangan ngikutin gua kenapa?!"

"Heh, kurang diajar situ. eike udah muji-muji situ, situnya malah bentak eike. nggak bangeet deeeeeehhh..."

"emang ondel-ondel kecebur lapindo, lu! gitu aja sewot!"

"TEGANYAAAAA..."



gua udah terlanjur takut, dan akhirnya gua lari. kalo tadi dia joget pake NOS, sekarang gua lari pake NOS. 1 km/detik. ternyata dia juga pake NOS!! ergh, kena penyakit apaan sih tu banci?! kalo gue ketangkep, gimana nasip gueeee...



gua lari terus nyampe jalan raya. sialnya, tu banci masih ngikutin. tapi untungnya, gua liat kak Rio lagi keluar dari warteg sambil bawa sebungkus makanan di seberang jalan. gua dengan sigap, cepat, aktual dan akurat langsung nyebrang jalan dengan nyawa utuh.



"Kak Riooooo...!!"

"Ngapain, lu Vin?"

"Kak, gua dikejer banci..."

"Resiko orang cakep, Vin."

"Gak bercandaa!! tuh, liat! ama gapura aja sama gedenya! mana motor lu kaaaaakk.. ayo ngabuuurr..."

"Buset! ada banci mejikuhibiniu pake rok mini bawa pom-pom?! cabut, Vin!"



gua langsung ngikutin kakak gua ke motornya. begitu dia siap gua langsung naik ke motornya. banci itu udah tinggal beberapa meter lagi, tapi kakak gua ahlinya ngebut. dan gue menghilang dalam sekejap bak diculik setan stasiun kereta api manggarai.



begitu sampe rumah, hati, perasaan, pikiran, semangat gue udah baikan. gue ngerasa udah kebebas dari siksaan ondel-ondel penjaga neraka itu. tapi ternyata enggak..



"A-ku tak ma-u.. dika-lau a-ku di-madu.. pu-langkan saja.. kepada o-rangtuaku.."



genderuwo itu sekarang lagi ngamen depan rumah gue. gue beneran gak berani keluar..



"Vin, nih gopek. kasih ke topeng monyet tuh di depan."

"Gak berani kaaaak.. itu banci yang ngejer Alvin kemareeen.."

"Boam. pokoknya kasih. dia gak mau pergi loh kalo gak dikasih duit."



Dengan perasaan was-was gue akhirnya keluar sambil bawa gopekan yang dikasih kak Rio. banci itu langsung mangap, naro telapak tangan di pipi sambil kedip-kedip. kalo gue bawa sepatu, gua nyusrukin tu sepatu ke mulut lu. gua jamin muat!



"yaaaa... si artis koreaaa..."

"nih, gopek. pergi lu, ondel-ondel!"

"Iya, eike pergi. tapi eike udah nandain, ye. ini rumah situ. jadi tiap hari eike bakal ke sini. daaaahh.."



eM-A Ma, M, Pe-U PU, S. MAMPUS!! dasar lo banci dongo, kaga puas lo dua kali ngeliat wajah cakep gue jadi histeris?! whuuaaaaa.... gimana niiihhh....



Untungnya, tu banci ngamen sore-sore. jadi kalo berangkat sekolah gua aman..



"ray.. lu inget banci yang breakdance pas 17 Agustusan kemaren?"

"Inget. kenapa?"

"Dia suka ama gue..."

"Hapa?! MAMPUS!"

"gak kasian lo ama gue?!"

"Kasian, sih.. feh. untung gua ga secakep elo. kalo iya, gua udah jadi sarapan tu banci, kali."

"Haaahh.. hidup gue gak tenang.."



sekolah selese sore-sore, terang aja gue gelisah. dan kegelisahan gue itu pertanda, banci itu berpapasan ama gue dan Ray yang lagi pulang sekolah bareng.



"Artis koreeaaa! ternyata situ baru pulang sekolah?! eike beruntuuuunngg..."

"Eh, ondel-ondel penjaga neraka. gue ingetin, ye. lu jangan sampe gue gebuk pake sepatu kuda!"

"Eh, kok situ galak sama eikee... hukumannya, ciuuumm.."



benci itu monyongin bibirnya. tadinya gue pengen make ray sebagai tameng, tapi malah gue yang jadi tamengnya dia. aaarrrgghhh.. sial! gue udah pengen ngelak, tapi banci itu...



"Kena situ!"

"WAAAAAA!!! RAY TOLONGIN GUEEEEEEE!!!"

"Vin, kata terakhir dari gue. MAMPUS!"



gue dipeluk abis-abisan ama tu banci. gue beneran gak bisa gerak. tuhan, nyawaku hanya 9. tolong berkati aku dengan uang bergambar pangeran antasari di kantong celanaku ini...



CHU.....



"PIPI GUEEEEEEEE!!!"

"Alvin, lo dicium beneraaaaaann!!" ray histeris.

"Eh, pipi situ lembut juga kayak tisu. lagi, dong."

"NGGGAAAAAAAAKK!!"



gue berontak, dan gue berhasil lepas dari dekapan genderuwo mejikuhibiniu itu. gue ngabur rada jauh, ninggalin Deva. Deva cuma geleng-geleng liat gue.



"Eh, temennya juga cakep. ayo sini.."

"BENGAAAAAA!! ALVIN, TUNGGUIN GUEEEE!!"



begitu Ray deket, gua tarik tangannya dan lari bersama. masalahnya ray bukan pelari NOS larinya lambat banget siput aja kalah, jadi gue rada nyeret Dia. sementara banci itu pelari NOS sejati. makin lama makin deket. tiba-tiba penulis dateng ngasih backsound



di setiap ada banci, mengapa jantung Alvin berdetak

berdetaknya lebih kencang, seperti genderang mau perang

di setiap ada banci, mengapa darah Alvin mengalir

mengalir lebih cepat, dari ujung kaki ke ujung ke kepala



Alvin sedang ingin berlari

Karena..

Mungkin ada banci, di sini

Alvin ingin...



aaaaa... bisa mati guueeeee... begitu sampe jalan raya, gue langsung nyetop angkot yang jurusannya ke rumah gue dan Ray.



"Vin.. gawat. gue juga diincer."

"Yah, maklum Ray. sesama orang cakep.."

"Iya juga, ya.."



sadisnya banci itu.. tiap sore gue pulang sekolah hampir selalu berpapasan ama dia. tiap sore di rumah dia kemping ampe malem di depan rumah gue.. ya ampun.. perasaan phobia gue mulai muncul..



hari Minggu siang, gua pergi ke lapangan deket sekolah gua. mau latian buat tanding bola. beuh, manstaaapp...



"Oke, semuanya. udah sore, kalian boleh pulang."

"Baaiikk..."

"Ayo, Ray. pulang."

"Oke, Vin."



DAG DUG DAG DUG DAG DUG



BRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR



"Gue kok deg-degan ya Vin?"

"Gue gemeteran, Ray.."



......



"BANCIII!" teriak gue dan Ray barengan. kita teringat banci itu,

"Alvin, lewat jalan kampung aja. kalo lewat jalan utama gini, pasti kita ketemu sama banci itu!"

"Oke! tapi lu tau jalannya?"

"Tau!"



Gue ngekorin Ray ngelewatin jalan kampung. Pas lagi jalan dengan santai, tiba-tiba Ray nyetop gue.



"Kenapa, Ray?"

"Banci itu lagi ngamen.. liat, tuh.."

"Oh AH SHIT! beneran sial kita ray!"



Tiba-tiba banci itu ngelirik gue sama Ray. Dia ngedip-ngedipin matanya sambil masang senyum selebar Chessire Cat.



"Ada situ berdua rupanya.. kalian nyusul eike ya?"



Gawat, kami terpojok. Dia udah deket banget sama kita. sekarang gue tau seserem apa setan stasiun manggarai.



"Jangan kemana-mana, ya. eike udah nunggu sejak lama kejadian kayak gini."



gua ama Ray kicep. gak bisa ngomong apa-apa lagi. Tau apa yang dia lakuin ke kita?



"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!"



untuk kedua kalinya gue ngerasain ciuman neraka dari ondel-ondel penjaga neraka itu...argh.. SADIS!! AKU TELAH TERNODAI !!



FLASHBACK : OFF



Udah jelas cerita gue? itu sebabnya gue langsung ngacir setiap ngeliat banci.. sekarang gue paling sensitif sama yang namanya banci. walopun jaraknya masih 200 m, gue udah bisa ngerasain auranya.. walopun semua banci ga sama, tapi gue udah terlanjur phobia. jadi buat kalian yang cakep, hati-hati, ya..

SELOW KAYA DI PULAU :D


Posted by Picasa

YANG TAK TERLIHAT

Yang Tak Terlihat (cerpen)

oleh Anindhiya Agustianing Putri pada 13 Maret 2011 jam 1:46

Gemuruh hujan yang menyapu bumi tanpa ampun, menimbulkan riak-riak basah hampir di seluruh sudutnya yang tak bertepi. Menimbulkan suasana yang begitu dingin, yang begitu luruh dengan kesunyian. Mendukung detik-detik keputus-asaan ini.

Aroma karbol, yang menyengat hidung, memerihkan mata, menjadi teman tak bersahabat namun setia sejak entah berapa jam yang lalu. Hingar bingar tak mewah yang sedari tadi terasa, meredup perlahan, meninggalkan tubuh-tubuh yang terikat dalam rasa takut dan kegusaran yang entah dimana ujungnya.

Dalam alunan waktu yang terasa menggebu, meski sebenarnya, biasa saja. Dua anak manusia itu saling diam. Diam dalam rasa diam yang mereka ciptakan. Diam dalam atmosfir bulir-bulir rasa sesak yang menghantui.

Bangku panjang plastik berwarna putih gading itu merekam segala rasa yang mengalir dalam angan keduanya. Jika bisa, bahkan rasanya ia ingin sekedar menegur, agar ada setidaknya, sepatah kata untuk membiarkan malam ini bernada.

“Gue anter elo pulang ya Shil..” ujar si laki-laki, akhirnya menyerah dalam kebisuan yang membelenggunya. Tiba-tiba, dan terlihat agak mengagetkan.

Perempuan itu menggeleng. Tatapan matanya yang kosong, jari jemarinya yang terus ia remas sejak tadi, secuil jiwa yang mencoba bertahan dalam raga yang seolah takmau lagi berirama. “Enggak mau Vin, gue mau tetap disini”

“Tapi dokter kan udah bilang, Rio masih belum bisa ditemuin siapapun”

“Gue mau disini Vin, gue enggak mau kemana-mana” tanpa menoleh, tanpa penekanan, bahkan tanpa tenaga. Hanya kedataran yang lurus dan tipis.

Dan laki-laki itu mengerti, bahkan sekalipun ia memaksa atau malah menyeret gadis cantik di sebelah kirinya ini, ia tetap akan tidak akan bisa membuat gadis itu beranjak. Alih-alih kembali memaksa, tanpa melihat juga, menggunakan tangannya, ia membuat kepala gadis itu bersandar di bahunya. Untuk saat ini saja. Hanya ini. Yang bisa ia lakukan.

Sesaat, gadis itu terkejut, laki-laki ini tidak pernah seperti ini sebelumnya, tidak pernah sehangat ini, ia tahu betul itu. Tapi siapa peduli, tidak ada sedetikpun waktu untuk mempermasalahkan perubahan cepat ini. Ada yang lebih penting dari itu. Ada tubuh kekasihnya di dalam ruangan, di ujung lorong tempatnya duduk saat ini, yang entah bagaimana keadaannya.

***

Kesenyapan, dinding hati yang perlahan memudar, jatuh dan luruh oleh waktu. Meninggalkan pedih yang tak bisa ditinggalkan.

***

Bayang-bayang tetes air mata gadis itu masih menari dengan anggun, memenuhi matanya. Ada sakit lain yang terasa begitu hebat, ini bukan tentang sahabatnya, yang sedang terbaring koma dan entah kapan bisa kembali sadar menyapanya, tapi ini tentang gadis itu. Gadis sahabatnya. Gadis yang ia yakini, lebih dulu ia cintai ketimbang sahabatnya.

“Mas..”

“Mas..ada yang salah ?” senggolan halus di punggung tangannya, reflek menarik jiwa-jiwanya yang terlepas tak sengaja berkumpul kembali dalam dirinya.

“Eh, iya kenapa ?” tanyanya balik, linglung.

“Itu..” penjaga cafetaria itu menunjuk tangan kanannya, yang baru ia sadari sedang meremas segelas kopi panas yang memang ia pesan tadi.

“Maaf mas, boleh minta dua lagi, yang sama kaya gini, sama roti coklatnya satu”

Setelah mendapatkan apa yang ia pesan, laki-laki itu kembali menyusuri selasar-selasar rumah sakit, dan langkahnya berhenti, pilu, ketika di dapatinya, gadis itu sedang berdiri, mencoba melihat ke dalam ruangan tempat sahabatnya berada.

“Shil..”

Gadis itu tidak menoleh. Ia masih saja meraba kaca di pintu itu, merabanya seolah ia juga bisa meraba tubuh belahan hatinya, yang dari tempatnya berdiri hanya bisa ia lihat ujung kakinya saja.

“Sarapan dulu yuk..” Alvin tidak menyerah. Ia mendekat, menumpukan sebelah tangannya di pundak Shilla. “Rio pasti enggak mau lihat elo sakit..” bisiknya kemudian, percaya bahwa menyelipkan nama itu akan berfungsi baik. Dan benar saja, Shilla langsung menoleh ke arahnya, dan kemudian mengangguk pelan.

Di kursi yang sama, kursi tempat mereka membagi waktu sejak berpuluh-puluh jam yang lalu, Alvin memperhatikan Shilla yang sedang memakan roti coklatnya tanpa ekspresi. Sementara dirinya sendiri, hanya menikmati kopinya, menikmati pahitnya.

Ia mengerti sekarang, mengapa dua tahun ini, ia baik-baik saja, karena gadis itu tetap tertawa bahagia di hadapannya. Tapi sejak kemarin sore, sejak air matanya terus berurai tanpa henti, sejak itu pula, senyap tak terkendali, asap-asap pedih, menyelubungi rasanya. Membuatnya tidak mengerti, apa yang harus ia lakukan.

“Elo enggak makan Vin ?”

“Udah tadi, lo aja..”

Shilla tersenyum tipis. Kehangatan ini, ini sama sekali bukan milik seorang Alvin yang ia kenali, Alvin tidak seperti ini. Atau ia yang tidak mengenalnya ?

***

Ku antar engkau ke masa laluku, ketika linang air mata menjadi pemeran utamanya..

***

Dia tidak pernah tahu. Atau lebih tepatnya, tidak ada seorangpun yang pernah tahu. Ada cinta yang sama yang tumbuh untuk perempuan yang sama, di atas persahabatan indah bertahun-tahun ini.

Cinta yang amat sangat klasik. Dua laki-laki mencintai satu orang perempuan. Hanya saja bedanya, tanpa pertaruhan atau perkelahian, keberanian memenangkan salah satunya, dan membuat yang tersisa menjadi sang pecundang.

Alvin masih mengingat semuanya. Rasa kecewa itu, ketika sahabatnya, dengan penuh semangat menceritakan setiap detail yang perempuan itu miliki, yang tanpa pernah Rio ketahui, Alvin telah mengenalnya lebih dulu, telah menyelami setiap incinya lebih dulu, meski dari kejauhan. Dan ketika pada akhirnya, cinta yang sama itu tidak pernah menyapanya meski hanya sekali, melainkan memeluk sahabatnya, ia memutuskan untuk tetap berdiri di tempat yang sama. Tempat yang abadi dan ia yakini takkan mampu di sentuh oleh siapapun..

Kecuali dirinya sendiri..dan Tuhan mungkin.

Di dalam hatinya. Di dasar yang terdalam. Di tempat dimana segala rasa serta asa itu hidup dan padam bergantian. Di letakkan dengan rapi dan terus ia hayati meski dalam diam.

Duk. Duk. Duk. Gema suara bola basket yang berpendar dalam ruangan itu, mengisi setiap lekuk kekosongan yang teramat nyata. Ia membiarkan bola itu memantul dari telapak tangannya ke lantai dan terus seperti itu. Sesekali ia akan melemparkannya ke arah ring, meski jarang sekali ada tembakannya yang masuk berpusar disana.

Setidaknya ini terasa lebih baik. Jauh lebih baik, daripada...

“Alvin..”

Meski mengerti ada suara yang memanggilnya. Ia tidak dengan segera berbalik, meski juga ia mengerti siapa yang memanggilnya. Alvin lebih memilih mengambil dulu bola basketnya yang menggelinding ke ujung ruangan, dan baru berbalik, berjalan mendekat ke arah gadis itu, gadis hujan, julukannya sejak gadis itu tak kunjung berhenti menangis.

“Kenapa Shil ?”

“Gue..gue..kangen Rio..”

“Oh..” dengan wajahnya yang datar, dan tatapan matanya yang sejak dulu tak pernah berubah, dingin cenderung tak bersahabat, jawaban bodoh itu terlontar begitu saja. Meski dalam hati, lagi-lagi tanpa siapapun pernah mengetahui, langsung ia sesali saat itu juga.

Tatapan pedih langsung di arahkan padanya dengan sukarela. Shilla menatapnya beberapa detik, menyiratkan ketidak-tahuan, kebingungan, dan tentu saja kekecewaan yang Shilla sendiri tidak mengerti untuk apa, bukankah ia tahu bahwa laki-laki di depannya ini adalah sang pangeran es.

“Maaf Vin..gue pikir, karena elo sahabatnya Rio, jadi elo orang yang paling tepat buat gue ngebagi rasa kangen ini..” ucap Shilla akhirnya, menunduk menatap ujung sepatunya yang terasa lebih bersahabat untuk di pandang. “Maaf..” ulangnya lagi, dan berjalan mundur lantas berbalik.

Alvin memperhatikan bola basket oranye di tangannya, jika ada Rio, ia yakin, bola ini telah melayang ke kepalanya. Hanya Rio, hanya sahabatnya itu yang bisa membuatnya peduli pada sekitarnya. Pandangannya teralih pada punggung Shilla yang telah berjalan semakin jauh dari tempatnya. Gadis itu sedang rapuh dan ia malah tambah membuatnya menjadi hancur berkeping-keping. Pantas saja Tuhan lebih memilihkan Rio ketimbang dia.

Dengan sedikit terburu-buru, Alvin berusaha menyusul Shilla dan kemudian mencekal pergelangan tangan gadis itu. Membuat langkah keduanya terhenti. Membuat degup jantung Alvin tak berjalan sesuai fungsinya. Dan membuat Shilla bertanya-tanya, ada apa gerangan dengan Alvin.

“M...mmaa..aaf..” dengan amat sangat terbata, kata itu akhirnya dapat terucap juga dari bibir merahnya. “Maaf Shil..” ujarnya lagi, lebih lancar.

“Enggak apa-apa, guenya aja yang sensitif..gue mau ke..”

“Sini aja, temenin gue” potong Alvin, dan kemudian menarik tangan Shilla, tanpa membiarkan gadis itu menyelanya. Ia terus menariknya, hingga mereka berdua tiba di tepi lapangan.

“Duduk disini aja” masih tanpa membiarkan Shilla untuk membuka suara, Alvin telah membuat mereka berdua duduk di bangku, yang memang di peruntukkan bagi supporter ketika ada pertandingan.

“Dia pasti sadar, dia bakalan baik-baik aja..”

“Eh..”

“Rio, dia pasti bakalan sadar buat elo Shil..” sambung Alvin, menatap lurus ke depan, dan bukannya menengok ke arah Shilla di sebelah kirinya. Bukan tidak ingin, tapi ia tidak mau, tidak mau melihat kilat cinta Shilla untuk Rio yang tidak pernah akan ada untuk dirinya.

“Udah delapan hari dia koma, enggak ada perkembangan sama sekali, gue benar-benar kangen hadirnya dia Vin..”

Inilah. Ini yang membuat Alvin akhir-akhir ini entah mengapa memilih untuk menghindari Shilla. Selalu ada yang berdenyut menyiksa hati, ketika kalimat-kalimat rindu bukan untuknya itu tersampaikan dengan sempurna dan tulus.

“Gue juga pengen dia ada disini, bukan elo doang..”

Shilla tersenyum tipis. Ia mengerti, tidak ada yang lain yang sanggup bertahan lama di sisi Alvin. Bahkan terkadang rasa cemburu menggelayuti Shilla, ketika waktu-waktu Rio lebih banyak habis terbuang untuk Alvin meski itu konyol.

Mereka berdua tidak bisa di pisahkan. Shilla tahu betul akan hal itu. Rio dan Alvin, dua sahabat karib yang selalu beriiringan bersama, yang jauh sebelum Shilla masuk dan memiliki salah satunya mereka telah lebih dulu saling melengkapi sebagai sahabat yang berusaha untuk sejati. Dan siapapun juga mengetahui, persahabatan mereka adalah dua kutub yang tak sama, yang berbeda, dan yang tak sejalan.

Sekilas Shilla mencoba untuk memperhatikan Alvin di sebelahnya. Lekuk wajahnya, yang sesungguhnya mampu untuk membius kaum hawa namun tak pernah disadari pemiliknya. Alvin terlalu tangguh dalam bentengnya sendiri, segala sifat angkuh atau apalah itu, yang mungkin hanya bisa Rio yang menyentuhnya.

“Eh Vin..” Shilla menekan-nekan pelan lengan Alvin dengan telunjuknya. “Kacamata lo kemana ?”

Entah sadar apa atau tidak, Alvin meraba matanya, dan kemudian tersadar kacamata bulat berframe hitam yang biasa bertengger disana tak lagi ada.

“Eh..kema..oh..itu ada di tas..” jawabnya baru teringat dimana ia meletakkan barang pentingnya itu.

“Lo bagusan gini deh, mata lo bagus tahu” puji Shilla sambil menyelipkan senyumnya yang khas di ujung kalimatnya.

Mendengar kalimat pujian dari gadis ini langsung saja membuatnya kikuk, hingga Alvin hanya bisa tersenyum. Senyum yang aneh. Senyum untuk sebuah hal kecil yang membuahkan kebahagiaan besar di hatinya.

“Kita pernah kenal sebelumnya enggak sih Vin ?” tanya Shilla tiba-tiba. Ia mengayun-ayunkan kakinya, tampak santai, berbanding terbalik dengan manusia di sampingnya.

“Kenal ?” ulang Alvin seolah ingin menegaskan.

“Iya, enggak tahu kenapa, gue ngerasa familiar aja sama elo..”

Alvin menggeleng pelan. “Enggak, perasaan lo doang. Gue kenal elo ya pas Rio ngenalin ke gue”

Untuk beberapa saat, Shilla mengamati Alvin kembali. Entah kenapa, ia tidak sepenuhnya puas dengan jawaban yang baru saja Alvin berikan. Wajah ini, jauh sebelum dua tahun lalu, Rio mempertemukan mereka berdua, Shilla merasa orang ini pernah ada di dekatnya.

Sadar di perhatikan, Alvin menekuni bola di tangannya, cukup ia dan akan selalu seperti itu. Tidak ada yang perlu tahu. Tidak ada yang perlu mengerti. Bahwa dulu, ia pernah menjadi seseorang, yang selalu duduk di kursi depan sebuah tempat bimbingan belajar, hanya untuk menantikan seorang gadis berseragam smp yang akan datang pukul tiga, dan ia juga akan melesat keluar pertama dari kelasnya hanya untuk melihat gadis itu berjalan keluar kelas di tempat yang sama, pukul lima.

“Berhenti lihat gue kaya gitu Shil” tukas Alvin, bukan risih, hanya saja ia merasa kerah seragamnya seperti mengkerut lantas membuatnya susah bernafas, ia tidak ingin gugup mengusainya.

“Hehehe..” tawa renyah yang selama ini hilang sejenak, tiba-tiba saja kembali, membuat Alvin kontan menengok ke arah Shilla. Gadis pelanginya telah kembali, tidak lagi menjadi gadis hujan seperti beberapa hari ini.

“Maaf Vin maaf. Abisan gue benar-benar ngerasa pernah ngelihat lo, sebelum gue jadi ceweknya Rio dan sebelum kita ada di SMA yang sama..”

“Dan itu bukan gue”

“Iya deh iya, enggak usah galak gitu dong..”

“Maaf..”

“Seneng deh gue, hari ini elo udah dua kali gitu bilang maaf sama gue, biasanya kan enggak pernah”

Ingin rasanya Alvin menimpali lagi kata-kata itu, hanya saja ia tidak mengerti, apa yang harus keluar dari bibirnya. Lagipula apa yang Shilla betul juga, selama ini, ia selalu memposisikan dirinya tidak begitu menyukai gadis dengan tipe manja dan ceria ala Shilla. Meski yang terjadi adalah sebaliknya. Dan saat ini, saat ia memiliki kesempatan untuk berdua saja dengan Shilla, ia bahkan tidak bisa memikirkan satu kalimat yang mampu untuk ia sampaikan dan mungkin akan Shilla ingat untuk selamanya, tidak seperti Rio..

Ah ya, Rio..

Mengingat nama itu, tiba-tiba saja seperti ada gelembung-gelembung rasa bersalah tak terlihat memenuhi aliran darah dalam tubuhnya.

Pantaskah ia bahagia saat ini ? saat sahabatnya mungkin sedang bernegosiasi dengan para malaikat-malaikat Tuhan agar bisa tetap bernafas. Bolehkah ?

Dengan ekor matanya, Alvin menangkap gambaran Shilla yang sesungguhnya telah ia ingat di luar kepala. Gadis ini, ia tidak sempurna, sama seperti manusia lainnya. Hanya saja cinta, seperti halnya cinta yang apa adanya, tidak pernah peduli pada siapa ia jatuh dan kemudian tertinggal meski tak dapat termiliki.

***

Dalam diam penantian ini terasa begitu lama, dalam diam, kau takkan kunjung datang..

***

Dengan langkah-langkah besar, ia berlari dan terus berlari, ingin segera tiba, ingin segera tahu apa yang terjadi. Dan ketika akhirnya, kedua kaki itu terhenti tepat di depan pintu, ia malah hanya bisa diam, dan terus diam meski nafasnya terasa memburu, menuntut waktu lebih setelah dipacu dengan paksaan tadi.

Ia bisa melihat dengan jelas. Sangat jelas bahkan. Dan untuk kali ini, ia tidak ingin melihatnya, walau bukan untuk yang pertama kali. Ia manusia, ia punya rasa sakit itu. Pedih itu datang sendiri tanpa undangan dan ia membencinya.

Perlahan, ia mundur, perlahan. Setengah berharap, seandainya ia juga bisa mundur dari segala rasa yang membuatnya seperti ini. Di ambang pintu, ia berbalik, menyelipkan kedua tangan di saku celana jeansnya, seolah tidak melihat apapun, ia berjalan menjauh.

Tidak akan ada waktu untuknya, meskipun ada, itu tetap bukan untuk dia.

**

Kecemasan berpacu dalam jiwanya. Ia hanya bisa berdoa sambil meremas handphone putih di tangannya, setelah beberapa menit yang lalu ia gunakan benda itu untuk menelpon seseorang. Tidak ada lagi air mata, ini sudah hari kesepuluh, mungkin air matanya telah lenyap, lenyap terbawa sejuta takut yang menghantuinya.

Pintu terbuka, dan ia langsung menyeruak maju. Ingin tahu secepatnya. “Gimana dok, gimana keadaan Rio ?”

“Kondisinya telah kembali stabil, meski keadaannya tetap sama....”

Shilla tidak mampu mencerna kalimat-kalimat ilmiah yang dokter jelaskan padanya, yang ia ketahui hanyalah kekasihnya itu masih bertahan hidup meski tak sekalipun membuka matanya. Dan ketika akhirnya ia di ijinkan untuk masuk, Shilla bak seorang anak kecil yang di ajak ke arena bermain, antusias dan penuh semangat.

Ia pandangi wajah Rio. Luka goresan dan lebam kebiruan tidak akan pernah mengurangi ketampanan laki-laki itu di matanya. Rio sempurna, dan akan selalu seperti itu. Tentu saja ia tidak memilih Rio atas alasan fisik semata, ada berjuta alasan lain yang mampu membuatnya takluk dan selalu ingin ada di samping Rio, selalu, kecuali hari itu..

Hari yang seolah merengut sebagian jiwa Rio dan hanya menyisakan tubuhnya yang penuh luka dan secuil nafas yang tak kunjung cukup untuk menatap dunia..

*

Laki-laki itu menatapnya memohon, tatapan yang pernah sanggup untuk ia tampik. Membuat Shilla kesal setengah mati. Sambil melipat kedua tangannya di dada, ia terus bertahan dengan sikapnya, mencoba tidak larut dalam rayuan yang sedang Rio layangkan untuknya.

“Ayolah Shil, sekali ini aja, beneran deh, ini yang terakhir..” rajuk Rio lagi, entah untuk keberapa kalinya.

Hanya untuk hal inilah, Rio akan merengek sedemikian rupa padanya. Karena hanya untuk hal ini saja, Shilla akan menolak mentah-mentah apa yang Rio minta.

“Lagian kenapa kamu jadi over protect gini sih sama aku ? kamu kan tahu, ini hal yang aku suka..”

Shilla mendesah pelan. Ia tidak ingin, hal sepele ini menjadi sepercik api yang akan membakar keduanya. “Bukan aku yang jadi over protect Yo, kamu tahu sendirikan, jelas-jelas beberapa hari yang lalu, ada yang kecelakaan parah, dan sekarang kamu minta ijin aku buat balapan motor kaya gini..gimana aku enggak takut..”

Tidak hilang akal, Rio menarik kedua tangan Shilla, memaksa Shilla untuk melihat ke arahnya. Dia paham betul, gadis di depannya ini mengkhawatirkan dirinya, tapi di sisi lainnya, jiwa laki-lakinya, egonya yang besar juga sedang menguasainya erat-erat.

“Aku tahu, kamu khawatir sama aku, tapi aku janji sama kamu, aku enggak akan kenapa-napa, aku cuma akan nge-trak satu putaran dan udah, enggak lagi..”

Kesungguhan dan kemantapan seperti inilah yang tak pernah mampu Shilla hiraukan. Selalu seperti ini. Bila bukan Alvin, maka motorlah yang akan menjadi saingannya untuk mendapatkan kualitas waktu bersama Rio. Miris memang.

“Boleh ya Shil, please..”

“Ya..ya udahlah..” ujar Shilla pasrah.

“Beneran ?”

Dengan berat hati Shilla mengangguk dan berusaha tersenyum. Lagipula ini bukan pertama kalinya, Rio akan melakukan hal ini. Tidak akan terjadi apa-apa.

“Makasih ya sayang..” tanpa malu-malu, Rio menggendong Shilla dan kemudian mereka berputar.

“Rio..ihh..aku takut jatuh ! Rio !!” raung Shilla, meski ia juga menikmati. Rio hanya tertawa dan malah terus berputar, membuat detik-detik mengalah pada kebahagiaan yang mereka ciptakan. Rio selalu punya cara untuk membuatnya menjadi satu-satunya.

“Udah..udah..turunin..” pinta Shilla lagi, dan kali ini di kabulkan. Rio membuat Shilla kembali berdiri tegak di lantai, dan kemudian, dalam hitungan yang begitu cepat, hanya selewat kedipan mata, Rio mengecup keningnya.

“Aku sayang kamu..” bisik Rio lembut, terasa penuh cinta.

Shilla diam. Ini aneh. Rio terbiasa seperti ini, tapi Shilla bisa merasa ada yang aneh, yang tak biasa kali ini. Sesuatu yang tak mampu ia lukiskan dengan kata-kata, namun terasa begitu kuat di hatinya.

“Heh, kamu enggak sayang aku ya ? kok kalimat aku enggak di balas ?” tanya Rio pura-pura sewot sambil bertolak pinggang, ketika Shilla hanya menatapnya tanpa berkata apapun.

“Eh..sayang kok sayang..”

“Ih, kepaksa gitu ngomongnya..”

“Aku sayang juga sama kamu Rio, sayang banget”

“Nah gitu dong” ujar Rio puas, lantas menepuk-nepuk kepala Shilla pelan. “Udah ya, aku jalan, kamu mau ikut ?”

“Enggak ah, aku enggak mau liat kamu ngetrak, takut..”

“Beneran nih ?”

“Iya, udah sana”

“Ikut aja deh kamunya..” Rio kembali memberikan tatapan memohonnya. Berharap Shilla mau menemaninya kali ini.

“Enggak Rio, aku enggak mau, udah ah sana, katanya tadi udah ditungguin sama temen kamu” tolak Shilla, yang memang tidak pernah mau melihat Rio berpacu cepat di atas motornya. Ia lebih suka menunggu di rumah.

“Tadi enggak di ijinin, sekarang malah ngusir-ngusir”

“Aku enggak ngusir, kan tadi kamu sendiri yang bilang temen-temen kamu udah nunggu disana..”

“Err..iya sih, tapi beneran nih kamu enggak mau ikut ?”

“Enggak, kan kamu tahu, aku enggak suka lihat kaya gitu”

“Ya udah deh, aku pergi ya, take care Shil..” Rio tersenyum dan berjalan mundur ke arah motornya yang terparkir di halaman depan rumah Shilla. Sebelum memakai helm, ia tersenyum lagi, dan..

*

Dan itulah senyum terakhir Rio untuknya. Dua jam kemudian, Alvin menjemputnya, dan langsung mengajaknya ke rumah sakit. Sejak saat itu pula, keadaan Rio tetap sama. Tidak ada perkembangan sama sekali.

“Yo, aku kangen..udahan dong tidurnya..” bisik Shilla, sambil meletakkan kepalanya di dada Rio. Berharap ada detak jantung yang berdenyut wajar dan normal, berharap ada tanda-tanda kehidupan disana.

“Sepi Yo enggak ada kamu..aku bener-bener pengen kamu ada disini..”

Shilla mengerti, sekuat apapun ia meminta, Rio tidak akan mengabulkan permintaannya dengan segera seperti biasanya. Hanya Tuhan, hanya Dialah yang mampu membuat segalanya kembali seperti sedia kala, dan Shilla sangat berharap akan hal itu.

Ia menoleh ke arah pintu, rasa-rasanya tadi seperti ada yang berdiri disana. Alvinkah ?

Namun tidak seorang pun. Ruangan itu tetap hanya terisi olehnya dan Rio. Shilla mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan, ke sudut-sudut yang sedari tadi menemaninya.

“Aku tahu, dimanapun sekarang kamu, kamu sedang ngawasin Yo, aku tahu, kamu selalu menjaga aku..”

***

Akan kucintau kau dengan sederhana, meski luka yang kau toreh tak pernah sederhana..

***

Hari jumat yang bearawan dan meniupkan angin-angin sore yang menawan. Ini hari kelima belas, ada lima belas bulatan merah di kalender kamar Shilla yang tak pernah absen ia lingkari setiap malam, sepulangnya ia dari rumah sakit.

Ini bukan lima belas hari yang melelahkan, hanya lima belas hari yang mulai membuat harapannya meredup meski ia tak ingin. Meski hanya setitik, ia akan terus mempertahankannya. Dan saat ini, Alvin berhasil membujuknya, sejenak untuk menghirup udara yang segar di taman rumah sakit, dengan segelas kopi hangat di tangan.

Shilla menyeruput kopinya, meski perempuan, ia menyukai kopi hitam tanpa gula. Dan entah bagaimana caranya, Alvin mengetahui itu. Sama sepertinya, Alvin tidak pernah absen selama lima belas hari ini. Bahkan lebih darinya, Alvin malah menjaga dua orang sekaligus, Rio dan Shilla tentu saja.

“Gimana kalau Rio enggak pernah bangun lagi..”

Alvin menoleh. Suara Shilla yang bergetar jelas-jelas memperlihatkan ada tangis yang tersamar dalam kalimat itu. Tidak dengan kata, ia merengkuh kepala Shilla, memeluknya, dan menepuk pundaknya.

“Dia akan bangun, dia enggak akan ninggalin elo, percaya sama gue”

Sesaat Shilla terperanjat, bukan karena kata-kata Alvin, melainkan apa yang Alvin lakukan. Kehangatan yang benar-benar bukan seperti dirinya. Rasa hangat yang mengalir dari ruas-ruas jari Alvin dan tersalurkan dalam tubuhnya. Rasa hangat yang sederhana namun begitu terasa.

“Tapi dia enggak nunjukkin perkembangan satupun Vin, gue enggak sebodoh itu, gue tahu kok kesempatan dia buat sadar lagi enggak sampai tiga puluh persen..”

“Sekalipun gue harus nukerin nyawa gue sama nyawanya Rio, gue rela Shil..”

“Alvin ! jangan ngomong sembarangan ah..” sergah Shilla, mengangkat tubuhnya dari pelukan Alvin. Menatap laki-laki di hadapannya yang selalu datar nyaris tanpa ekspresi.

“Kalau gue harus pergi untuk beberapa waktu, lo enggak apa-apa kan Shil, nungguin Rio sendiri ?”

“Emang lo mau kemana ?”

“Rio pasti pernah ceritakan, tentang rencana gue sama dia buat naik gunung ?”

Shilla mengangguk. Tak ada satupun rahasia di antaranya dengan Rio. Ia tahu semuanya, begitu juga sebaliknya. “Lo mau tetap naik gunung Vin ?”

“Harus naik, itu maunya Rio, gue bakal naik untuk Rio..”

“Kapan ?”

“Besok pagi Shil. Lo mau oleh-oleh apa ?” Alvin tampak melunak, matanya yang jernih terlihat bersahabat kali ini. Atau ini karena Shilla mulai sering menatapnya ?

Shilla berpikir sejenak, lantas ia tersenyum ke arah Alvin. “Gue cuma mau elo selamat, itu aja..”

Alvin mengerti, Shilla mengucapkan ini atas nama persahabatan dan rasa takutnya akan kehilangan. Tapi Alvin juga tak dapat memungkiri, bahagia yang menyeruak pelan dan menambal seluruh masa sepi yang selama ini mengendap.

Dan Shilla sendiri, bukan tidak rela, hanya saja, lima belas hari ini, pundak Alvinlah tempat ia membagi segala duka, kesedihan, air mata, hingga beban-beban yang mencekik tubuhnya. Laki-laki itulah yang menopang segalanya. Yang memberinya kedamaian tak terlihat namun terasa.

Sore itu mereka akhiri hanya dengan diam. Kopi yang mendingin menjadi satu-satunya pelarian untuk membunuh waktu, yang tidak membosankan, hanya terlalu sunyi. Dan ketika akhirnya Alvin mengantarkan Shilla kembali ke kamar Rio, lantas ia sendiri pamit sebentar kepada sahabatnya itu lalu menghilang di balik pintu. Maka Shilla kembali sendiri dalam keremangan kamar.

Yang tiba-tiba saja, terasa begitu sepi. Sepi dalam arti, Shilla mengerti beberapa hari ke depan, hanya akan ada dirinya yang memenuhi kamar ini. Tidak ada Alvin, tidak ada sorot mata dinginnya yang hangat.

***

Doa akan selalu teralun dalam cinta yang tak pernah tersampaikan..

***

Shilla membuka matanya, ketika cahaya matahari itu menyapanya dengan lembut namun mengganggu. Seorang suster yang baru saja membuka tirai kamar tersenyum ke arahnya. Shilla meraih jam tangannya di meja, dan cukup terkejut, melihat angka delapan terpeta disana. Sepertinya ia tidur terlalu pulas.

“Maaf Sus..” ujarnya tak enak, sedikit kikuk.

“Enggak masalah mbak, lagipula ini hari sabtu” sahut suster itu maklum. “Infus mas Rio udah di ganti, saya keluar dulu, kalau ada apa-apa silahkan pencet belnya..”

“Iya Sus..”

Sepeninggal suster itu, Shilla bergegas ke kamar mandi untuk membasuh mukanya dan mengikat rambutnya yang panjang. Merasa lebih baik, ia kembali menemui Rio yang tetap tertidur.

“Pagi Rio, ini hari ke enam belas..dan aku harap ini hari terakhir kamu ngacangin aku dalam tidur panjang kamu ini..” ucap Shilla seperti biasa.

Ia menoleh ke arah sofa, tempat dimana, Alvin biasa menemaninya. Dan kali ini sofa itu kosong tidak lagi ada tubuh putih itu. Tatapannya teralih ke meja kecil tempat ia meletakkan jam tangannya tadi, biasanya disana sudah ada sebungkus roti coklat yang Alvin sediakan sebagai sarapan untuknya, dan mulai hari ini, sepertinya Shilla harus membeli sendiri roti itu.

Sebelum matanya beralih kembali pada Rio, kedua bola mata itu tertumbu pada sebuah amplop putih, yang terlihat menyatu dengan meja itu. Ia meraihnya, membuka dan membacanya..

Gadis pelangi..

Aku ingin menitipkan ini, kenangan yang mungkin tak bernilai dan kau abaikan begitu saja. Tapi bagiku, ini lebih dari itu..ini aku, dalam hidupmu..

Kening Shilla berkerut. Gadis pelangi ? benarkah ia yang di maksud oleh entah siapa pemilik amplop ini. Dan keraguannya berubah menjadi kepastian, ketika dari dalam amplop ia menemukan sebuah kartu identitas, miliknya.

Kartu yang Shilla ingat, sebagai kartu absen di sebuah tempat bimbingan belajar yang pernah ia ikuti saat SMP, yang sempat hilang. Dan kini kembali, entah darimana asalnya.

Shilla meraba tulisan di secarik kertas itu, berharap ia dapat mengenalinya, tulisan siapa ini dan apa yang di maksud oleh penulisnya. Tak kunjung mendapatkan jawaban, karena toh dia bukanlah seorang yang ahli dalam hal seperti ini, Shilla hanya mampu memandangi kartu di tangan kirinya dan surat di tangan kanannya.

Bergerak. Shilla menyadari itu, ia buru-buru meletakkan kedua benda di tangannya itu, dan menggenggam tangan Rio. Benar saja, tangan itu bergerak, jari-jari itu terasa menggeliat dalam tangannya. Shilla langsung menekan bel berkali-kali.

Semua terasa terlupakan, yang di nanti, mungkin akan segera kembali.

***

Irama mungkin tak sama. Satu nada menghilang. Tunggu aku di pintu surga, sahabat..

***

Gerimis cukup untuk membasahi payung yang menutupi kedua orang yang sedang berjalan di bawahnya. Langit sendu, sesendu raut wajah laki-laki yang baru sadar bahwa sahabatnya telah pergi, tanpa pernah ia merasakan pamitnya.

Tak ada pusara. Tak ada jejak tertinggal. Hanya kenangan yang terus melekat, meski rasanya menyesakkan. Dan yang pasti, penyesalan, segudang penyesalan.

Payung di letakkan di ujung teras. Rio tampak pilu untuk memasuki ambang pintu yang menganga lebar, seolah menantikannya sejak lama. Ia tahu diri, ini sudah lewat sebulan, dan ia baru datang. Padahal ialah sang sahabat yang selalu di agungkan oleh pemilik rumah ini.

“Semua tahu Yo kamu sakit, semua ngerti kenapa kamu baru datang hari ini” Shilla yang dapat membaca segala cemas dari laki-laki di hadapannya, mencoba menguatkan serta meyakinkan.

“Tapi...”

“Nak Rio ?” seorang ibu, dengan selendang hitam yang tak kunjung lepas, sejak berita itu datang, sejak Shilla datang ke rumah ini seorang diri dan menangis tanpa pegangan. Sejak kehilangan itu menyeruak dalam dingin, sedingin ia yang telah pergi.

“Tante, maafin Rio, Rio..” dan tanpa membiarkan Rio menyelesaikan kalimatnya, ibu itu langsung saja memeluk Rio, memeluknya dengan cucuran air mata yang mengalir tanpa henti.

“Alvin Yo, Alvin..dia udah pergi, dia hilang di gunung..dia..”

“Iya tante, Rio tahu..”

Shilla hanya dapat menyaksikkan. Rio sendiri sempat marah kepadanya, ketika baru kemarin kabar itu ia sampaikan. Bukan sengaja menundanya, tapi Shilla mengerti, tidak akan mudah Rio menerimanya. Karena ia sendiripun, masih tidak bisa menerimanya.

Setelah tangis yang sarat kehilangan, Shilla menemani Rio yang masih terguncang dalam kesedihannya, menelusuri sisa-sisa yang tertinggal dalam kamar Alvin yang rapi. Dengan kardus di tangannya, Rio memasukkan semua foto dan barang milik Alvin, ia akan membawa semua itu ke rumahnya, sudut kenangannya.

Tidak hanya Rio, Shillapun merasa sesak ada disini. Sesak memikirkan bahwa tubuh itu sempat memeluknya di pertemuan terakhir mereka. Shilla duduk menghadap meja belajar Alvin, membaca judul-judul buku yang ada disana. Ia mengambil satu buku, yang tidak masuk dalam barisan buku lainnya, melainkan tergeletak secara asal, terlihat bahwa mungkin itu buku terakhir yang Alvin baca.

Dilingkupi rasa penasaran, Shilla membuka buku itu, dan alangkah terkejutnya ia, mendapati apa yang terselip di halaman pertama buku tersebut.

Selembar foto, dan itu fotonya. Foto Shilla dalam balutan seragam SMPnya.

“Apa itu Shil ?” tanya Rio yang mendekatinya.

Buru-buru Shilla menutup buku itu, dan tersenyum ke arah Rio. “Buku, kayanya bagus, mau aku bawa pulang, boleh kan

Yo ?”

Rio mengangguk, ia mengacak pelan poni Shilla. “Love you..”

“Love you too..” balas Shilla langsung. Tak ingin kehilangan waktu. Ada banyak hal yang telah mengajarkannya tentang bersukur. Rio kembali menggeledah sisi lain kamar Alvin, dan Shilla hanya memperhatikannya, laki-laki itu, Tuhan telah memberinya mujizat untuk umur yang masih ditambahkan, berkah yang tak ternilai harganya.

Hari yang panjang. Mereka berdua menghabiskan satu hari ini di rumah Alvin atas permintaan Rio yang tentu saja tidak akan Shilla tolak. Dan kini mereka ada di mobil, tepat di depan rumah Shilla.

“Makasih ya Shil, hari ini kamu udah mau nemenin aku..”

“Makasih ? ini udah kewajiban aku Yo, kamu enggak perlu bilang makasih sama aku”

“Kamu memang yang terbaik, aku pulang ya..”

“Hati-hati ya, enggak usah ngebut, aku enggak mau kejadian kemarin keulang lagi”

Rio mengangguk mengerti. Shilla turun dari mobil Rio, dan menyaksikan mobil itu melaju perlahan dari hadapannya. Ia bergegas masuk ke dalam rumah, ada yang ingin buru-buru ia baca, yang ingin buru-buru ia ketahui, untuk apa ada fotonya di dalam buku milik Alvin.

***

Namanya Shilla, tapi aku lebih suka memanggilnya gadis pelangi..

Karena pertama kali aku melihatnya, adalah saat pelangi muncul dengan indahnya setelah hujan..

Ia adalah ujung senja yang tak akan pernah dapat ku sentuh..

Ia adalah dermaga namun bukan tempat untukku menepi..

Aku hanyalah semacam rintik hujan yang jatuh..lalu jejaknya segera hilang

Dia istimewa..

dan aku menyukainya, ia alasan untuk waktu-waktu yang diam dalam duniaku

Satu-satunya cara, yang tidak pernah berani ku coba

untuk membuatku sedikit lebih bahagia dari hari ini

adalah menepikan jejak tentangnya..

Ia gadis pelangi..dan aku penikmatnya, bukan pemiliknya..

-Alvin-